Equityworld – Dolar AS rebound dari level terendahnya terhadap Yen pada hari Rabu ini (17/8) setelah sejumlah pejabat FED melontarkan komentar hawkish. Pelaku pasar kini akan kembali memantau pertemuan FED bulan September mendatang karena ada kemungkinan rate hike di momen tersebut.

Awal pekan ini, Dolar cenderung defensif setelah jeleknya data-data ekonomi Amerika Serikat memunculkan pesimisme akan kemungkinan kenaikan suku bunga FED dalam waktu dekat. Namun, pernyataan dua pejabat FED menepis outlook dovish tersebut dan seketika mendorong Dolar menguat.

Presiden FED New York William Dudley tadi malam mengungkapkan bahwa bank sentral bisa saja menaikkan suku bunga pada bulan September. Senada dengan itu, Presiden FED Atlanta Dennis Lockhart di kesempatan berbeda menyatakan bahwa FED bisa menaikkan suku bunga dua kali tahun ini.

Baca: Harga Emas Comex Kontrak Desember Pagi Ini Melemah 0,32%

Indeks Dolar yang mengukur kekuatan Greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya, terakhir terpantau naik 0.3% ke 95.025 sementara pasar masih menantikan pidato dari Presiden FED St Louis James Bullard dan rilis notulen FOMC dini hari esok.

Equityworld Futures: USD/JPY melonjak hingga 0.8% ke 101.100 pagi ini

Berkurangnya aksi penghindaran risiko juga mengakibatkan kurangnya minat bagi mata uang safe haven, sehingga memungkinkan USD/JPY melonjak hingga 0.8% ke 101.100 pagi ini setelah sebelumnya ambruk hingga 99.550.

Euro pun melorot 0.2% ke $1.1261 meski tadi malam naik ke level tertingginya sejak akhir bulan Juni di $1.1323. Sementara itu, GBP/USD terpantau agak melandai di kisaran 1.3017an setelah sebelumnya sempat melonjak pasca rilis data inflasi Inggris yang lebih baik dari perkiraan.

Namun, sejumlah pihak masih memandang penguatan Dolar dengan keraguan. Menurut Junichi Ishikawa, analis di IG Securities Tokyo, sebagaimana diungkapkannya pada Reuters, “Pandangan Hawkish dari para pejabat FED bisa memicu short-covering pada Dolar, tetapi tidak cukup untuk memulai sebuah uptrend…

Ini karena pasar sekarang hanya mengekspektasikan satu atau dua kenaikan suku bunga tahun ini, padahal di akhir 2015 diekspektasikan (akan ada) empat kenaikan.”