Equity World | 7 Bukti kalau otak manusia sebenarnya ‘penipu’

Equity World | Otak adalah organ paling vital di dalam tubuh manusia, di mana segala hal diatur oleh otak. Tak hanya bagaimana berbagai organ kita berjalan, bagaimana kita bergerak, serta berpikir, lebih dalam lagi, otak ‘memutuskan’ bagaimana kita merasakan sesuatu, bagaimana perspektif kita terhadap sesuatu dan bagaimana cara pandang kita terhadap sesuatu di sekitar kita.

Permasalahannya adalah otak kita ternyata merupakan ‘penipu.’ Bukan berarti apa yang kita lihat maupun rasakan merupakan tipuan, namun ternyata otak kita cukup usil dan sering melakukan tipu daya tanpa kita sadari. Sehingga, seringkali apa yang kita anggap benar sebenarnya hanya otak kita sedang bermain-main dengan kita.

Berikut beberapa bukti bagaimana otak kita ternyata merupakan ‘penipu’. Dikutip dari merdeka.com

1. Kejenuhan semantik

Pernahkah Anda merasa bahwa sebuah kata yang sangat sering diulang-ulang dan jadi tren, namun Anda tak memahami artinya? Hal ini sering terjadi dalam praktik berbagai kata-kata ‘gaul’ yang dipopulerkan kaum muda, namun ketika terlalu banyak digunakan di berbagai objek kalimat, maknanya seakan-akan tak jelas. Hal ini disebut kejenuhan semantik.

Hal ini bisa dicontohkan ke berbagai penggunaan diksi ‘gaul’ seperti “pecah,” atau “woles”. “galau” dan lain sebagainya.

Para ilmuwan mempelajari fenomena ini dan menemukan keunikan, di mana ketika Anda mengulangi kata atau diterpa dengan kata-kata yang sama, otak Anda jadi ‘kenyang’ dan mulai mempertanyakan apa arti kata tersebut. Makin sering kata tersebut diulang, otak Anda jadi kurang mampu untuk menghubungkannya dengan makna dan informasi yang ada di balik kalimat. Hal ini menunjukkan bahwa otak kita bisa menipu kita karena kebosanan terhadap sesuatu.

2. Kebodohan tiba-tiba

Otak ternyata bisa menipu kita dengan cara membuat kita menjadi bodoh. Contoh kasus dalam hal ini adalah bagaimana seseorang yang punya opini yang kuat terhadap sesuatu yang kontra dengan masyarakat, seperti kanibalisme, pedofilia, atau agama, mereka akan cenderung diam. Menurut ilmuwan, hal ini lumrah terjadi dan memiliki sebutan sebagai “moral dumbfounding.” Jadi meski kita punya argumen kuat soal hal yang tak cocok dengan norma masyarakat, otak kita akan melemah kinerjanya dan tak punya cukup argumen untuk kontra dengan norma. Di sini, otak kita menipu kita dengan jadi ‘terkesan bodoh.’

Para ilmuwan menemukan bahwa jika otak kita secara sadar bahwa kita punya argumen yang mungkin bertentangan dengan norma, respon ini akan terjadi. Ilmuwan memprediksi bahwa tabunya suatu perilaku hanya tertanam dalam alam bawah sadar kita, sehingga kita tetap ingin punya jiwa kritis, meski hal tersebut ‘ditahan’ sedemikian rupa oleh otak. Tentu hal ini tak selalu terjadi dengan baik, karena masih banyak orang yang mampu berargumen dengan baik di platform tertentu meski hal tersebut bertentangan dengan norma.

3. Hantu adalah tipuan otak?

Ketika Anda berada pada situasi di mana panca indera Anda tak menerima input dengan baik, seperti di ruangan kosong tanpa cahaya dan tanpa suara, seringkali Anda akan berhalusinasi. Hal ini seringkali dikaitkan dengan adanya makhluk halus atau gaib, padahal hal ini adalah tipuan otak.

Hal ini cukup menjelaskan mengapa kita sering mendengar suara aneh, merasa ada orang lain di sekitar kita, atau bahkan melihat bentuk-bentuk aneh, ketika berada di tempat asing. Padahal hal ini merupakan trik dari otak karena otak kekurangan input sensorik dari panca indera kita. Hal ini membuat otak seakan-akan tetap bertugas untuk mengisi kekosongan tersebut. Hasilnya? Kita tak tah apa yang nyata dan apa yang merupakan halusinasi.

4. Nyeri ‘simpatik’

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang kecelakaan yang cukup mendetil, lalu tiba-tiba Anda meringis seakan-akan luka tersebut terjadi pada Anda? Benar, itu juga merupakan tipuan otak di mana otak bereaksi ketika kita melihat wajah dengan suatu ekspresi tertentu.

Temuan para ilmuwan akan hal ini adalah terdapat bagian dari otak yang disebut ‘area cermin’ yang mengandung saraf yang mampu menjadi ‘saraf cermin’ untuk menciptakan respon simpatik. Jadi manusia akan selalu ‘disetel’ oleh otak untuk berpikir bahwa kita merasakan hal yang sama seperti apa yang orang lain alami. Hal ini merupakan empati naluriah.

5. Kenangan palsu

Kita tentu sangat yakin dengan apa yang kita ingat. Berbagai ingatan tentang apa yang pernah kita alami, tentu adalah sesuatu yang membentuk kita dalam perilaku di dunia nyata. Meski demikian, para ilmuwan telah melakukan riset dengan subjek memori di otak kita, dan menemukan bahwa otak kita cukup mudah ditanami kenangan palsu.

Benar, menurut salah satu ilmuwan, ternyata pikiran kita sebenarnya ingin mengambil apa yang ada di sekitar kita atau apa yang kita lihat, namun tak selalu berhasil. Hal ini menyebabkan adanya celah dalam memori. Untuk mengisinya, terkadang pikiran kita menanam kenangan palsu yang kita pikir masuk akal berdasar pengetahuan dan pengalaman kita.

Hal ini masih termasuk lumrah. Namun ada juga beberapa orang yang ‘terjebak’ dalam hal ini jadi jadi pembohong patologis. Hal ini mengerikan karena dia bisa menceritakan kebohongan secara detil seakan-akan hal tersebut dialaminya dan ia simpan di dalam memorinya. Lebih buruk lagi, ia tak merasa ia bohong.

6. Terlalu banyak tidur = mabuk?

Kita tentu tahu jika kita kurang tidur, apa yang kita rasakan sangat mirip dengan mabuk. Hal tersebut adalah peringatan dari otak untuk tubuh kita. Namun hal ini juga akan kita alami jika kita terlalu banyak tidur.

Benar, ketika terlalu banyak tidur, ketika bangun badan kita akan merasa tidak enak dan pening. Hal ini dikarenakan ketika Anda terlalu banyak tidur, otak Anda akan bingung dan Anda memasuki keadaan antara tidur dan bangun. Hal ini mirip dengan ketika Anda kurang tidur.

7. Halusinasi dalam keadaan sadar

Biasanya, seseorang dalam pengaruh obat-obatanlah yang akan mengalami halusinasi. Namun hal tersebut tak sepenuhnya benar. Ada sebuah halusinasi yang disebut halusinasi Hypnagogic, yang terjadi pada rentang waktu ketika Anda tertidur namun tak benar-benar tertidur. Serta ada juga halusinasi Hypnapompic yang terjadi saat Anda benar-benar terbangun.

Kedua bentuk halusinasi ini bisa bersifat pendengaran atau bahkan visual. Halusinasi ini berbeda dengan mimpi, di mana ilmuwan telah membuktikan bahwa otak kita bisa membuat kita berhalusinasi dalam keadaan setengah sadar.

Hal ini biasa dialami orang yang sangat kelelahan, atau mengalami kondisi mental yang terganggu. Bahkan hal ini terjadi pada individu yang sehat wal afiat. Hal ini disebabkan oleh tidak puasnya otak dengan kondisi apa yang sedang kita alami, yang mana kondisi antara bangun dan tidur. (Equity World)

Save