Equity World | Ada Ramalan Ngeri dari IMF, Emas Diburu & Siap ke US$ 1.800

PT Equityworld

Equity World | Setelah cetak rekor harga tertinggi barunya di tahun ini sekaligus dalam tujuh setengah tahun terakhir, harga emas ditutup melemah kemarin. Namun prospek emas dalam jangka panjang masih tak berubah.

Kamis (25/6/2020), harga emas di pasar spot menguat tipis cenderung flat. Pada 08.35 WIB, harga emas dunia menguat 0,07% ke US$ 1.762,64/troy ons. Kemarin harga logam mulia ini ditutup di US$ 1.761,43/troy ons.

Harga emas yang sudah sangat tinggi membuat investor tergoda untuk ambil untung. Apalagi di tengah peningkatan kasus infeksi baru virus corona yang terjadi di berbagai negara.

Sampai dengan hari ini, kasus kumulatif penderita Covid-19 secara global telah mencapai angka lebih dari 9,4 juta orang. Amerika Serikat (AS) masih menjadi negara dengan kasus terbanyak.

Lonjakan kasus baru yang terjadi di Negeri Paman Sam membuat beberapa gubernur New York, New Jersey dan Connecticut memberlakukan kebijakan karantina 14 hari bagi para pengunjung dari sembilan negara bagian lain ketika sampai.

Di Jerman laju reproduksi virus juga mengalami peningkatan menjadi 2,76. Itu artinya 1 orang pasien atau penderita Covid-19 bisa menularkan ke hampir 3 orang lainnya. Peningkatan kasus di Jerman membuat Pemerintah Negara Bagian North Rhine-Westphalia kembali memberlakukan lockdown di dua distrik agar virus tidak menyebar lebih lanjut. Mini-lockdown ini rencananya berlaku hingga 30 Juni.

Akibat dari merebaknya wabah, pasar kembali diliputi dengan kecemasan. Dini hari tadi tiga indeks utama Wall Street anjlok dengan Dow Jones turun 2,72% dan S&P 500 terpangkas 2,58%. Sementara di saat yang sama Nasdaq Composite melemah 2,19%.

Dana Moneter Internasional (IMF) kembali merilis proyeksi ekonomi globalnya baru-baru ini. Lembaga yang bermarkas di Washington DC itu merevisi turun pertumbuhan ekonomi tahun 2020. IMF menurunkan 1,9 poin persentase proyeksi pertumbuhan output global menjadi minus 4,9% untuk tahun ini.

Bagaimanapun juga dengan prospek ekonomi yang masih ‘gloomy’ membuat para pemangku kebijakan diperkirakan masih akan menggelontorkan stimulus untuk meredam dampak pandemi.

Suku bunga yang rendah dan banjir stimulus fiskal dan moneter membuat potensi inflasi yang tinggi ke depannya. Emas sebagai aset lindung nilai (hedging) menjadi instrumen investasi yang menarik.

Dalam kondisi ketidakpastian dan ancaman tingginya inflasi di masa mendatang, maka prospek emas masih menarik. Investor mencari suaka dan lari ke emas. Permintaan yang tinggi turut mendongkrak harga emas lebih lanjut.

“Harapan inflasi jangka panjang masih lemah dan memiliki ruang untuk naik” kata Daniel Ghali ahli strategi komoditas di TD Securities, mengutip Reuters. “Ketika Anda memiliki suku bunga rendah dan kenaikan inflasi, itu berarti suku bunga riil ditekan dan itulah faktor yang mendorong harga emas lebih tinggi.” tambahnya.