Equity World | Beda PCC, Somadril, dan Tramadol dengan Flakka

PT Equityworld Futures 1017456

Equity World | Mencoba hal baru memang identik dengan remaja. Tak jarang mereka juga mencoba pil koplo seperti tablet PCC, Somadril, dan Tramadol. Ketiga jenis obat ini diduga dipakai berbarengan oleh anak-anak dan remaja Kendari sehingga mereka berlaku bak orang gila, seperti yang terjadi baru-baru ini.

Perilaku mereka seperti orang kesurupan, sehingga sempat muncul dugaan bahwa mereka mengkonsumsi flakka. Namun, BNN Pusat menyebut bahwa obat yang mereka konsumsi adalah PCC.
Informasi terus berkembang. Berdasar pengakuan salah seorang di antara peminum pil, mereka mengoplos tablet PCC dengan Somadril dan Tramadol.
Lalu apa beda ketiga obat keras itu dengan flakka?

Ahli kimia farmasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombes Pol Drs Mufti Djusnir mengatakan efek yang ditimbulkan ketiga obat tersebut berbeda dengan narkoba jenis flakka.
Menurut Mufti, tablet PCC, Tramadol, dan Somadril merupakan obat yang melemaskan otot dan menyasar syaraf keseimbangan.
Sementara flakka menyebabkan efek paranoid yang menyebabkan para penggunanya mengamuk bahkan tidak sadar sedang melukai diri sendiri.
“Flakka itu bisa membuat mengamuk karena menyebabkan paranoid. Sedangkan obat yang tadi (PCC, Somadril, dan Tramadol) efeknya melemasnya otot,” kata Mufti.

Equity World | Remaja di Kendari Berlaku Aneh Diduga Oplos PCC, Tramadol dan Somadril

Diduga puluhan anak-anak dan remaja di Kendari yang berperilaku seperti orang gila tak cuma mengkonsumsi pil PCC, tapi juga mengoplosnya dengan obat lainnya yaitu Somadril dan Tramadol, yang juga biasa dikenal sebagai pil koplo.
Tiga orang pengedar Somadril hari ini diumumkan sebagai tersangka oleh polisi. Mereka diduga terlibat dalam kasus yang menghebohkan Kendari sejak Selasa (11/9) itu.
Antara melaporkan, ahli kimia farmasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombes Pol Drs Mufti Djusnir, MSi, Apt, menjelaskan PCC dan Somadril sama-sama mengandung zat aktif carisoprodol. Sedang Tramadol berfungsi sebagai pereda nyeri pasca-operasi.
Jika disalahgunakan dan diminum bersamaan,

“Tablet PCC itu mengandung zat aktif carisoprodol yang fungsinya melemaskan otot sehingga menghambat rasa sakit ke syaraf dan otak,” kata Kombes Mufti Djusnir, Kamis (14/9).
“Sedangkan Somadril kandungannya adalah carisoprodol dan paracetamol. Tramadol zat aktifnya hanya tramadol,” sambung dia kemudian menjelaskan ketiga obat tersebut bersinergi jika dikonsumsi bersamaan dan menyebabkan pengguna tidak sadarkan diri.
Kombes Mufti menjelaskan penyalahgunaan obat-obat itu akan menimbulkan efek seolah melayang atau terbang karena konsentrasi dan keseimbangan terganggu.

“Jika bersinergi bersama-sama ketiga obat itu, kalau dibiarkan disalahgunakan menjadi ketagihan,” ujar Kombes Mufti.
“Hasil riset, obat-obat itu bisa menyebabkan addict, menjadi candu dan hasrat untuk mengulangi. Biasa pemakai tak cukup sesuai dosis, mereka akan menaikkan dosisnya, dari dua tablet, tiga, dan seterusnya,” jelas Kombes Mufti.
Sebagian dari obat tersebut sudah ditarik dari peredaran, sedangkan penggunaan Tramadol harus dengan resep dokter.

Menyebabkan Overdosis dan Tulalit

Kombes  Mufti memperingatkan penyalahgunaan ketiga obat tersebut bisa menyebabkan overdosis yang menimbulkan kematian.
“Kalau berulang penyalahgunaan bisa OD, kematian sudah dekat. Gejalanya yang ditimbulkan  biasanya diawali panas dingin, berkeringat, linglung, batuk kemudian kejang,” kata dia.
Penyalahgunaan obat-obatan itu juga bisa menyebabkan kecacatan syaraf. “Apakah meninggalkan bekas cacat syaraf? Umumnya yang sudah konsumsi, bisa seperti itu. Obat ini menghambat otak, jelas yang terkena adalah otak,” jelas Kombes Mufti.
“Kalau bahasa halusnya ada syaraf yang ‘putus’ atau jadi tulalit,” imbuhnya.

Sedikitnya 50 anak-anak dan remaja Kendari dilarikan ke rumah sakit karena mengamuk bak orang gila dan ada juga yang tak sadarkan diri, sejak Selasa (12/9). Sebanyak 26 orang di antaranya dirawat di RS Jiwa Provinsi Sultra di Kendari.
“Para korban ini mengalami gejala kelainan seperti orang tidak waras, mengamuk, berontak, ngomong tidak karuan setelah mengkonsumsi obat yang mengandung zat berbahaya itu, sehingga sebagian harus diikat,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kendari, Murniati. (Equity World)

TAG :
Equity World Jakarta, Equityworld Futures Jakarta, PT Equityworld Jakarta, PT Equityworld, Equityworld Futures, Equity World, PT Equityworld Futures, PT Equityworld Futures Jakarta SSC, PT EWF