Equity World | Emas di Bawah US$ 1.700/oz, Waktunya Beli atau Jual?

PT Equityworld

Equity World | Harga emas dunia melesat hingga melewati level US$ 1.700/troy ons untuk pertama kalinya sejak tahun 2012 pada Senin (9/3/2020). Tetapi setelah mencapai level tersebut harga emas justru melorot hingga 1% ke US$ 1.657,36/troy ons, sebelum mengakhiri perdagangan Senin di level US$ 1.679,6/troy ons, menguat 0,34% di pasar spot, melansir data Refintiv.

Penurunan emas masih berlanjut pada hari ini, Selasa (10/3/2020) pukul 13:50 WIB, emas melemah 1,06% di level US$ 1.661,4/troy ons, melansir data Refinitiv.

Aksi jual di bursa saham menjadi pemicu penguatan tajam harga emas tersebut, sebelum terpangkas akibat aksi profit taking.

Kecemasan akan pelambatan ekonomi global akibat wabah virus corona terus memicu aksi jual di bursa saham global. Senin kemarin indeks Nikkei Jepang jeblok lebih dari 5%, Kospi Korea Selatan lebih dari 4% dan Shanghai Composite China lebih dari 3%.

Kemudian dari Eropa, DAX 30 Jerman, FTSE 100 Inggris dan CAC 40 Perancis, ambles lebih dari 7%. Sementara itu FTSE MIB Italia anjlok lebih dari 11%.

Sementara itu, bursa saham AS (Wall Street) lebih parah lagi, kiblat bursa saham dunia tersebut perdagangannya dihentikan hanya hitungan menit setelah dibuka pada Senin (9/3/2020). Seperti dikutip dari Reuters, penghentian perdagangan dilakukan karena indeks karena S&P 500 turun 7% dan memicu penghentian otomatis perdagangan selama 15 menit. Ini merupakan penghentian perdagangan pertama sejak krisis 2008-2009.

Di akhir perdagangan, indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq masing-masing merosot lebih dari 7%.

Patut diingat penyebab utama anjloknya bursa saham global adalah wabah virus corona yang berisiko menekan pertumbuhan ekonomi global. Emas yang merupakan aset aman (safe haven) akhirnya menjadi buruan pelaku pasar, dan harganya pun melesat naik.

Wabah virus corona yang berasal dari kota Wuhan China tersebut kini meluas ke berbagai negara. Di daerah asalnya, penyebaran virus corona mulai melambat, tetapi justru melonjak drastis di negara-negara lain.

Berdasarkan data Johns Hopkins CSSE, hingga saat ini virus corona sudah menjangkiti lebih dari 100 negara, dengan jumlah kasus lebih dari 114.000 orang. Dari jumlah kasus tersebut sebanyak 4.026 orang meninggal dunia.

Peningkatan jumlah kasus yang signifikan terjadi di Italia, sampai saat ini sudah ada lebih dari 9.000 kasus. Italia juga sudah mengisolasi beberapa wilayahnya agar penyebaran virus corona tidak meluas. Lonjakan kasus lainnya terjadi di Korea Selatan, Iran, Perancis, Jerman hingga di AS.

Akibat penyebaran wabah tersebut, perekonomian global diprediksi akan melambat, beberapa negara bahkan terancam mengalami resesi. Akibatnya bank sentral di berbagai negara, termasuk bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) harus memangkas suku bunga guna meminimalisir dampak wabah virus corona ke perekonomian.

Pada Selasa (3/3/2020) malam (Selasa pagi waktu AS), The Fed mengejutkan pasar dengan tiba-tiba mengumumkan memangkas suku bunga acuannya atau Federal Funds Rate (FFR) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 1%-1,25%. Pemangkasan mendadak sebesar itu menjadi yang pertama sejak Desember 2008 atau saat krisis finansial. Kala itu The Fed memangkas suku bunga sebesar 75 bps.

Bank sentral paling powerful di dunia ini seharusnya mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 17-18 Maret waktu AS, tetapi penyebaran wabah corona virus menjadi alasan The Fed memangkas suku bunga lebih awal dari jadwal RDG.

Pemangkasan tersebut sudah diprediksi oleh pelaku pasar, hanya saja terjadi lebih cepat dari jadwal RDG pekan depan.

Pelaku pasar memprediksi The Fed masih akan memangkas suku bunga lagi bahkan lebih agresif saat mengumumkan suku bunga 18 Maret (19 Maret waktu Indonesia) nanti. Kamis kemarin, pelaku pasar memprediksi The Fed akan memangkas suku bunga 25 bps 18 Maret nanti, tapi kini prediksi tersebut bertambah menjadi 50 bps.

Berdasarkan data dari piranti FedWatch milik CME Group, pelaku pasar melihat adanya probabilitas sebesar 77,5% The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 75 bps menjadi 0,5-0,75%. Selain itu pelaku pasar melihat 22,5% suku bunga akan dipangkas 100 bps menjadi 0-0,25%, dan tidak ada probabilitas suku bunga dipangkas 50 adan 25 bps atau dipertahankan.

Pelambatan ekonomi global serta pemangkasan suku bunga menjadi “kabar bagus” bagi emas. Pada bulan September 2011, harga emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa US$ 1.920/troy ons, penyebabnya adalah suku bunga rendah di berbagai negara termasuk AS, serta program pembelian aset atau quantitative easing (QE) dari The Fed. Suku bunga The Fed saat itu sebesar 0-0,25%.

Kebijakan suku bunga rendah serta QE tersebut diterapkan akibat terjadinya krisis finansial pada 2008. Meski saat ini kemungkinan terjadi krisis masih cukup kecil, tetapi situasinya hampir mirip. The Fed yang agresif memangkas suku bunga memberikan gambaran ekonomi AS cukup terancam akibat wabah virus corona.

Kondisi seperti ini membuat daya tarik emas sebagai aset safe haven semakin meningkat. (Equity World)