Equity World Futures – Jakarta, CNN Indonesia — Wacana Kementerian Keuangan mengembangkan Offshore Financial Center (OFC) sebagai kawasan surga pajak dinilai akan membawa angin segar bagi industri perbankan nasional.

“OFC yang memberikan insentif, salah satunya keringanan pajak, akan mendongkrak perputaran uang di Indonesia. Jadi, tidak harus melalui negara lain,” tutur Parwati Surjaudaja, Direktur Utama PT Bank OCBC NISP Tbk kepada CNNIndonesia.com, Rabu (22/6).

Parwati berharap dengan insentif pajak yang lebih baik, maka secara otomatis akan meningkatkan likuiditas bank berbarengan dengan semakin dalamnya tingkat intermediasi industri keuangan di Indonesia.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) yang berpengalaman memanfaatkan fasilitas OFC di Kepulauan Cayman, Laut Karibia coba memberi gambaran OFC yang diwacanakan Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro tersebut.

Ahmad Baequni, Direktur Utama BNI, menilai sepanjang OFC bentukan pemerintah memberikan insentif keringanan pajak dan dimanfaatkan untuk transaksi perusahaan-perusahaan, tentunya akan menguntungkan bagi perbankan.

“Kami punya di Cayman Island, untuk menampung dana-dana yang menjadi kebutuhan nasabah di luar negeri. Di negara lain, kami tidak tahu insentifnya seperti apa, tetapi praktik di Cayman ya memang seperti surga pajak,” terang dia.

Apabila pemerintah serius mengembangkan OFC di Indonesia, Baequni menilai, tentu dampaknya baik untuk menarik pulang aset warga negara Indonesia dan perusahaan nasional yang banyak disimpan di luar negeri.

Sebagai informasi, pamor Kepulauan Cayman sebagai surga pajak cukup akrab di telinga pelaku industri keuangan. Cayman bahkan digadang-gadang sebagai pemimpin pasar pengelolaan hedge fund dunia, diikuti oleh British Virgin Island dan Bermuda.

Hingga saat ini, BNI sendiri tercatat memiliki sedikitnya delapan kantor cabang di luar negeri. Yakni, New York, London, Singapura, Hong Kong, Tokyo, Osaka, Seoul, serta Yangoon. Equity World Futures