Equity World | Kamu Suka Pakai Antibiotik Sembarangan? Hati-Hati Akibatanya Bisa Fatal!

pt equityworld

Equity World | Mengobati penyakit ringan tanpa pengawasan dokter merupakan hal yang lazim dilakukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Hampir setiap rumah menyediakan obat-obatan pribadi, salah satunya antibiotik.

Namun, tahukah kamu kalau penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa berakibat fatal?

1. Masyarakat banyak yang salah kaprah

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Profesor dokter Purnawan Junadi mengatakan, penggunaan antibiotik yang salah dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten alias kebal. Akibatnya, luka tak pernah sembuh.

“Banyak operasi yang gak perlu antibiotik. Pun dengan penyakit-penyakit ringan seperti batuk pilek, radang tenggorokan, demam, dan diare. Penggunaan antibiotik berlebih bisa menyebabkan bakteri resisten terhadap obat,” ujar Junaidi di Jakarta, Selasa (27/2).

2. Obat-obatan masih dijual bebas

Tak seperti negara lain yang memperketat peredaran obat-obatan, di Indonesia justru dijual bebas. Junaidi mengakui, distribusi obat-obatan memang menjadi salah satu lahan bisnis menjanjikan. Namun, masyarakat juga berhak mendapatkan informasi yang benar mengenai kegunaan obat.

“Masyarakat terkadang mendapatkan informasi yang salah. Obat di mana-mana ada, antibiotik dijual bebas. Pasien pun banyak yang gak paham obat yang dikonsumsi, mereka melakukan pengobatan sendiri. Belum lagi iklan-iklan menyesatkan. Di luar negeri, orang susah mau nyimpen obat sembarangan,” tutur dia.

Menurut Junaidi berdasarkan data rasional 2013, sepertiga penduduk Indonesia menyimpan obat yang seperempatnya berupa antibiotik, 80 persen menyimpan obat tanpa resep, baik di kota maupun di desa.

“Di kota 50 persen dapat obat dari apotek, di pedesaan dari toko obat atau tenaga kesehatan. Mau miskin, mau kaya, sama saja. Sepertiganya antibiotik dipakai, sepertiganya lagi buat persediaan.  Separuh penduduk Indonesia gak punya informasi yang tepat soal obat,” ujar Junaidi.

3. Banyak klinisi yang gagal paham

Menurut Junaidi, banyak klinisi yang gagal paham dalam memanfaatkan antibiotik. Misalnya, pasien yang mengeluh panas dianggap infeksi sehingga harus dapat antibiotik, padahal belum tentu.

“Kanker pun menimbulkan panas, trauma, bahan-bahan kimia, dan lain-lain. Yang boleh dapat antibiotik hanya infeksi bakteri, karena gak bisa membunuh virus apapun. Flu, batuk pilek, termasuk demam berdarah gak perlu antibiotik, justru bisa merugikan pasien. Infeksi bakteri pun gak selamanya harus dikasih antibiotik. Ada infeksi bakteri yang bisa sembuh sendiri,” papar dia.

4. Bisa menimbulkan kematian

Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba Indonesia (KPRA) dokter Hari Paraton mengungkapkan, semua antibiotik bisa menjadi pemicu resistensi. Bahkan, antibiotik yang mengandung mikroba jenis e-colli dan klebsiella pneumonia dapat menyebabkan kematian jika digunakan tidak tepat dan overdosis.

“Kalau ada yang terinfeksi e-colli, banyak yang  meninggal. Kalau klebsilla pneumonia juga menimbulkan penyakit yang kian parah,” ujar dia.

5. Masyarakat harus bijak menggunakan obat

Menurut Hari, masyarakat harus bijak dalam menggunakan antibiotik. Jika membeli antibiotik ke apotek, sebaiknya menyertakan resep dari dokter. Jika tidak, masyarakat harus paham bahwa antibiotik bukan penyembuh segala penyakit.

“Apotek harusnya juga tidak melayani pembelian antibiotik bebas oleh masyarakat,” imbuh Hari. (Equity World)