Equity World | Keperkasaan Emas Dunia & Antam Pudar, Saatnya Ditinggalkan?

pt equityworld emas

Equity World | Akhir pekan harga emas dunia kembali melemah melanjutkan performa negatif dalam sepekan. Negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China yang membuahkan hasil positif, untuk sementara waktu, membuat investor lebih berani berpindah ke aset yang berisiko.

Emas mengakhiri perdagangan Jumat di level US$ 1.489,45/troy ons, melemah 0,3% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sebelum perdagangan berakhir, aset yang dianggap aman (safe haven) ini amblas 1,35% ke level US$ 1.473,9/troy ons.

Perang dagang AS-China yang berlangsung hampir dua tahun, mulai memperlihatkan tanda-tanda reda, setelah kedua negara berhasil mencapai kesepakatan dalam perundingan yang berakhir Jumat (11/10/2019).

Selama perang dagang antar kedua negara berlangsung sejak awal 2018 telah memberikan dampak buruk ke perekonomian global. Pelambatan ekonomi terjadi di mana-mana, bahkan beberapa negara terancam resesi, termasuk AS sang Negeri Adikuasa.

Pelambatan ekonomi dan ancaman resesi tersebut membuat bank sentral di berbagai negara melakukan pelonggaran moneter dengan memangkas suku bunga acuannya, termasuk bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang sudah dua kali memangkas suku bunga di tahun ini.

Kombinasi pelambatan ekonomi dan pelonggaran moneter tersebut membuat harga emas dunia melesat naik hingga hingga mencapai level tertinggi lebih dari enam tahun terakhir US$1.557/troy ons pada 4 September lalu.

Setelah mencapai level tertinggi tersebut, harga emas terkoreksi turun, meski beberapa kali sempat kembali menguat tapi tidak pernah lagi bisa benar-benar perkasa lagi.

Harapan akan adanya damai dagang AS-China memberikan tekanan bagi emas, jika penyebab kenaikan harga itu akhirnya “berdamai”, maka emas kehilangan satu pijakannya untuk terus menguat.

Damai dagang AS-China (meski sebenarnya tidak benar-benar damai) akhirnya terwujud Jumat kemarin. Setelah melalui “drama” yang membuat hubungan AS terlihat panas-dingin akibat laporan beberapa media di awal pekan ini, perundingan dagang 10-11 Oktober di Washington akhirnya berjalan lancar dan menghasilkan deal yang sudah dinanti pelaku pasar.

Jumat pekan lalu, Presiden AS, Donald Trump, bersama Wakil Perdana Menteri China, Lie He, Jumat waktu Washington mengumumkan jika perundingan kedua negara memberikan hasil “kesepakatan fase satu yang sangat substansial”, sebagaimana dilansir CNBC International.

Trump menambahkan “fase kedua akan dimulai segera” setelah fase pertama ditandatangani.

Porsi pertama dalam kesepakatan dagang kali ini akan dibuat dalam tiga pekan ke depan, termasuk di dalamnya properti intelektual, jasa keuangan, serta rencana pembelian produk pertanian AS oleh China senilai US$ 40 sampai US$ 50 miliar, kata Trump sebagaimana dilansir CNBC International.

Dengan deal kali ini, artinya bea masuk yang rencananya dikenakan ke China pada 15 Oktober nanti resmi ditunda, untuk sementara tidak ada lagi kenaikan bea importasi dari kedua negara.

Kesepakatan kedua negara menjadi kabar bagus bagi para pelaku pasar global, pertumbuhan ekonomi global diharapkan akan tumbuh, tidak lagi melambat dan ancaman resesi menghilang. Selera terhadap risiko (risk appetite) pelaku pasar meningkat, dan aset-aset berisiko kembali menjadi target investasi. Dampaknya, emas yang merupakan aset safe haven menjadi kurang menarik, dan harganya pun amblas ke bawah US$ 1.500/troy ons.

Namun, emas belum akan benar-benar ditinggalkan pelaku pasar, deal AS-China kali ini hanya ujian awal bagi emas.

Hasil perundingan AS-China belum menunjukkan adanya penghapusan bea impor dari masing-masing negara, ini artinya arus lalu lintas perdagangan masih akan terhambat.

Bagaimana respon ekonomi global terhadap deal ini akan menjadi ujian sebenarnya bagi harga emas. Jika kondisi ekonomi global membaik, pertumbuhan ekonomi meningkat, emas perlahan-lahan akan ditinggalkan.

Saat kondisi ekonomi membaik, panduan kebijakan moneter bank sentral global bisa kembali berubah. Saat ini, bank sentral di berbagai negara memberikan panduan pelonggaran moneter, yang memberikan keuntungan bagi harga emas. Tetapi jika arah kebijakan nantinya berubah menjadi pengetatan moneter, emas akan kembali tertekan.

Kebijakan moneter The Fed akan menjadi acuan utama, setelah pengumuman Presiden Trump, probabilitas pemangkasan suku bunga di AS menjadi menurun. Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar melihat probabilitas sebesar 75,4% suku bunga akan dipangkas 25 basis poin (bps) menjadi 1,5-1,75% pada 30 Oktober (31 Oktober dini hari WIB).

Sebelum adanya deal dagang, probabilitas tersebut masih di atas 80%. Tetapi jika dibandingkan dua pekan lalu yang di bawah 50%, probabilitas tersebut tentunya masih cukup tinggi, yang berarti pelaku pasar masih memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunganya di akhir bulan nanti.

Artinya peluang harga emas untuk kembali menguat masih terbuka meski tidak sebesar sebelumnya, setidaknya logam mulia ini belum benar-benar ditinggalkan pelaku pasar. (Equity World)