Equity World | Mengenal Bipolar yang Diidap oleh Felicia

PT Equityworld 40

Equity World | Kepolisian memastikan bahwa Tanita Felicia (24) yang kabur saat hendak ditilangm lalu menabrak pemotor di Bundaran HI, Jakarta Pusat, tidak mengkonsumsi narkoba. Namun, Felicia mengidap gangguan bipolar berdasarkan keterangan dari orang tua mahasiswi itu.
“Orang tua (Felicia) datang dan kita interograsi, kita mintakan keterangan. Bahwa yang bersangkutan ini mempunyai penyakit bipolar,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (22/11).

Lantas, sebenarnya apa itu gangguan bipolar?
Mengutip informasi dari komunitas penderita bipolar, Bipolar Care Indonesia, gangguan bipolar adalah gangguan mood, penderitanya mengalami perubahan mood yang ekstrem antara mania (senang sekali) dan depresi (sedih sekali). Kedua hal yang sangat bertolak belakang tersebut datang silih berganti, kadang ada periode normal di antaranya.

Untuk fase mania ditandai dengan suasana hati secara signifikan. Keadaan ini menyebabkan penderita gangguan bipolar yang mengalaminya merasa sangat gembira yang berlebihan, sangat bersemangat, enerjik, dan sangat aktif.
“Memiliki banyak ide, merasa tidak perlu tidur, melakukan banyak aktivitas secara bersamaan, melakukan tindakan berisiko, membelanjakan uang berlebih, atau boros, dan berpenampilan berlebihan,” tulis Bipolar Care Indonesia di situsnya.

Sementara untuk fase depresi, ada penurunan suasana hati secara signifikan seperti murung, menarik diri, merasa sedih, dan tidak bergairah. Bisa juga mudah tersinggung, tidak berminat melakukan hal yang menyenangkan dan adanya dorongan untuk bunuh diri.
“Penyebab diduga karena genetik, biologis (ketidakseimbangan zat kimia otak), psikologis (pola asuh), dan lingkungan,” lanjut Bipolar Care Indonesia.
Gangguan ini bisa diobati dengan beberapa terapi seperti obat-obatan, psikoterapi, dukungan lingkungan, dan juga spiritual. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika, gangguan bipolar menyerang setidaknya 5,7 juta jiwa yang berusia di atas 18 tahun ke atas.

Anak-anak atau remaja diduga akan memiliki risiko 14 kali lebih mungkin terkena gejala bipolar. Dan menurut hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Archives of General Psychiatry, seorang anak akan memiliki risiko dua sampai tiga kali lebih mungkin untuk mengalami kegelisahan atau gangguan suasana hati seperti depresi.

Meskipun begitu, hal ini tidak bisa menjamin seorang anak lantas akan mengalami hal yang sama dengan apa yang orang tuanya alami. Boris Birmaher, M.D, psikiater dari Psychiatric Institute and Clinic di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, mengatakan hal serupa mengenai faktor genetik gangguan bipolar yang akan diturunkan orang tua kepada anak.
“Anak-anak ini mungkin memang memiliki risiko yang cukup tinggi, tapi bukan berarti setiap anak akan memiliki gangguan yang sama,” ujar Boris yang menjadi salah satu peneliti Pittsburgh Bipolar Offspring Study seperti dikutip dari CNN.

Penelitian yang telah dilakukan oleh Birmaher menunjukkan bahwa sebanyak 10,6 persen anak yang lahir dari orang tua yang mengalami bipolar memiliki gangguan spektrum bipolar yang mencakup gejala ringan hinga berat. Namun, hanya dua anak atau 0,8 persen di antaranya yang akan memiliki gejala tersebut.
Boris juga menegaskan bahwa faktor lingkungan juga bisa menjadi penyebab gangguan bipolar terjadi pada anak. (Equity World)