Equity World | Tak Ada Matinya, Harga Emas Masih Berpeluang Naik Lagi

pt equityworld emas

Equity World | Harga emas kembali bergerak naik pada perdagangan kemarin. Namun keyakinan harga logam akan naik lebih tinggi mulai menyusut, karena kekhawatiran akan terjadi resesi dan perang dangan mulai hilang.

Hingga perdagangan kemarin sore harga emas dunia sempat bertengger di level US$ 1.506/troy ounce. Level tertinggi yang dicapai bulan ini US$ 1.534 menjadi batas atas (resisten) jika harga emas masuk dalam tren sideways.

Emas sebenarnya telah masuk pada tren naik atau bullish semenjak menembus ke atas level US$ 1.375/troy ons, dan diperkuat lagi saat menembus level US$ 1.433 (level tertinggi Agustus 2013).

Namun setiap kenaikan tentunya akan ada koreksi, dan jika harga bolak balik pada rentang tertentu, maka akan menjadi tren sideways.

Selama tidak menembus ke atas US$ 1.534, maka bisa dipastikan emas sudah masuk tren sideways, dengan potensi terkoreksi turun menuju US$ 1.433. Berlanjutnya tren bullish bagi emas baru terkonfirmasi kembali jika sudah melewati resisten US$ 1.534.

Secara teknikal, melihat grafik mingguan, emas bergerak di atas rerata pergerakan 50 minggu (Moving Average/MA 50) garis ungu, MA 100 (garis hijau) dan MA 200 (garis biru).

Indikator rerata pergerakan konvergen dan divergen (MACD) bergerak naik dan berada di wilayah positif, memberikan indikasi bullish bagi emas.

Melihat indikator tersebut, emas masih berpeluang menguat lagi dalam jangka menengah, target kenaikan terdekat ke area US$ 1.569.

Lalu bagaimana dengan sentimen fundamental? Harapan akan adanya kesepakatan dagang antara dua negara kembali muncul, apalagi China sudah tidak lagi mendevaluasi nilai tukar yuan secara signifikan dan kecemasan akan perang mata uang juga menjadi mereda membuat harga emas bergerak lambat.

Selanjutnya, isu resesi di AS yang sempat muncul pada pekan lalu juga perlahan sirna setelah yield obligasi (Treasury) AS tenor 2 tahun dengan tenor 10 tahun sudah tidak lagi mengalami inversi.

Inversi merupakan keadaan di mana yield atau imbal hasil obligasi tenor pendek lebih tinggi daripada tenor panjang. Dalam situasi normal, yield obligasi tenor pendek seharusnya lebih rendah.

Inversi menunjukkan bahwa risiko dalam jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang. Oleh karena itu, inversi kerap dikaitkan dengan pertanda resesi.

Namun yang patut diingat, semua isu di atas bersifat sangat dinamis, Presiden Trump sering mengubah sikapnya, China bisa saja kembali mendevaluasi yuan, dan isu resesi bisa jadi kembali muncul jika isu perang dagang dan perang mata uang kembali memanas, pasar sebenarnya masih penuh ketidakpastian.

Satu hal yang pasti, outlook kebijakan moneter global saat ini adalah longgar, entah itu dengan pemangkasan suku bunga, atau pemberian stimulus moneter.

Kebijakan moneter yang longgar tersebut akan menguntungkan bagi emas dalam jangka panjang. Namun, jika melihat pergerakan emas sepanjang bulan Agustus logam mulia ini telah naik lebih dari US$ 100, sehingga pelemahan dalam dua hari terakhir terlihat masih dalam wajar.

Akibat kenaikan tajam kurang dari satu bulan tersebut, emas berpotensi masuk ke fase sideways atau bergerak dalam rentang perdagangan tertentu.

Emas kemungkinan mendapat momentum pergerakan dari pertemuan Jackson Hole di AS mulai Kamis nanti, di mana pimpinan bank sentral dari berbagai negara akan berkumpul, dan bisa jadi memberikan proyeksi kebijakan moneternya.

“Sepengetahuan saya, pertemuan pada September masih terjadwal. Namun yang lebih penting dari pertemuan itu, kami (AS dan China) terus berkomunikasi melalui telepon. Pembicaraan kami sangat produktif,” ungkap Trump, dikutip dari Reuters.

Harga emas dunia di pasar spot melemah dalam dua hari beruntun sejak Senin (19/9/19) kemarin, setelah pasar finansial global mulai kondusif. Hal ini tercermin dari bursa saham global yang terus menghijau. Namun daya tariknya dalam jangka menengah belum akan pudar,

Meredanya isu perang dagang, currency war atau perang mata uang, dan resesi memang membuat daya tarik emas sebagai aset aman atau safe haven menjadi agak berkurang, kalah bersaing dari imbal hasil aset investasi di pasar keuangan.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi menunda kenaikan bea impor produk-produk dari China, bahkan beberapa produk batal dikenakan tarif. Selain itu pada hari Jumat lalu, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memberikan sinyal positif terkait negosiasi dagang dengan China.

Harga emas dunia merupakan salah satu acuan harga emas Antam. Kenaikan harga emas dunia cenderung diikuti emas Antam. Sebaliknya jika harga emas dunia turun, emas Antam juga akan ikut turun sehingga peluang kenaikan harga emas dunia dalam jangka menengah masih berpeluang mendorong harga emas Antam mencetak rekor tertinggi lagi.

Namun melihat pergerakan emas saat ini tentunya tidak bisa dari teknikal saja, faktor fundamental juga perlu diperhatikan.

Fundamental untuk emas dalam jangka menengah masih mendukung kenaikan, tetapi semua itu bisa berubah jika AS-China mencapai kesepakatan dagang, tidak ada lagi perang mata uang, dan pertumbuhan ekonomi global meningkat yang membuat bank sentral global tidak agresif dalam melonggarkan kebijakan moneter.

Kondisi-kondisi itu akan memudarkan kilau emas sebagai aset safe haven dan lindung nilai terhadap inflasi, sehingga emas daya tarik emas akan semakin berkurang, dan harganya akan kembali melemah. Namun hingga September, belum terlihat ada peluang pemburukan situasi ekonomi dunia.

Sementara itu, Harga emas acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun Rp 8.000 pada perdagangan kemarin.

Berdasarkan harga Logam Mulia di gerai Butik Emas LM – Pulo Gadung di situs logammulia milik Antam hari ini, harga tiap gram emas Antam ukuran 100 gram melemah menjadi Rp 70 juta dari harga kemarin Rp 70,8 juta per batang. (Equity World)