Equity World | Trump Marah, Harga Emas Tak Terbendung Sentuh Rekor Baru

pt equityworld emas

Equity World | Harga emas pada perdagangan malam Rabu (4/9/2019) menyentuh level US$ 1.556,15/troy ounce, berdasarkan data harga investing.com. Harga tersebut menjadi rekor penutupan tertinggi di tahun ini.

Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melipatkan tarif impor barang-barang China membuat pelaku industri keuangan dunia semakin pesimistis ada damai dagang antara kedua negara. Ketakutan akan terjadi resesi ekonomi dunia semakin mengemuka, dan emas menjadi tempat paling aman dalam situasi tak menentu seperti sekarang ini.

Secara teknikal seperti yang tampak pada grafik harian, emas yang disimbolkan XAU/USD masih bergerak di atas rerata pergerakan (Moving Average/MA) MA 8 hari (garis biru), dan MA 21 hari (garis merah) serta MA 125 hari (garis hijau).

Indikator rerata pergerakan konvergen divergen (MACD) di wilayah positif tetapi bergerak turun, histogram masih di wilayah negatif. Jika histogram sudah kembali ke area poisitif, maka emas akan mendapat momentum penguatan lebih besar untuk jangka menengah.

Pada time frame 1 jam, emas bergerak di kisaran MA dan MA 21, tetapi di atas MA 125. Indikator stochastic sudah memasuki wilayah jenuh juak (oversold).

Emas saat ini kembali menembus ke bawah US$ 1.539/troy ons, target penurunan selama tertahan di bawah level tersebut yakni US$ 1.535/troy ons. Jika level tersebut ditembus, emas berpeluang turun ke US$ 1.530. Support kuat masih di level US$ 1.526/troy ons.

Melihat indikator Stochastic yang oversold, emas berpotensi rebound selama tertahan di atas US$ 1.535. Rebound emas masih akan diuji level resisten US$ 1.545 dan US$ 1.550. Penembusan di atas level US$ 1.550 akan membuka peluang ke area US$ 1.555, bahkan lebih jauh lagi ke level US$ 1.563.

Harga emas dunia melesat pada perdagangan kemarin, meski hari ini terkoreksi karena ambil untung (profit taking). Namun ke depan, prospek si logam mulia masih kinclong.

Akan tetapi, harga emas masih menyimpan tenaga untuk bergerak ke utara. Pasalnya, ketidakpastian ekonomi global masih tinggi, utamanya karena perang dagang Amerika Serikat (AS) vs China yang seakan tanpa akhir.

Babak baru perang dagang AS-China resmi dimulai pada 1 September lalu. AS mengenakan bea masuk 15% untuk importasi produk asal China senilai US$ 125 miliar di antaranya smartwatch, televisi layar datar, dan alas kaki. Sebelumnya, total produk China yang sudah terkena bea masuk di AS mencapai US$ 250 juta.

Sementara China mengenakan bea masuk 5-10% untuk importasi produk made in the USA senilai US$ 75 miliar. Bea masuk baru ini mencakup 1.717 produk, termasuk minyak mentah. Ini adalah kali pertama minyak asal AS dibebani bea masuk di China.

Selain babak baru perang dagang, kini ada ‘babak tambahan’. China mengadukan AS ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Tidak disebutkan rincian dari laporan itu, tetapi China menyatakan kebijakan AS telah mempengaruhi ekspor mereka sebesar US$ 300 miliar.

Trump menegaskan China jangan coba-coba menghambat negosiasi. Kalau dialog dagang sampai buntu, sang presiden ke-45 Negeri Adidaya mengancam tidak akan ragu bertindak lebih keras kepada China.

“Enam belas bulan adalah waktu yang lama (bagi China) untuk mengalami PHK massal, dan itu yang akan terjadi jika saya menenangi Pemilu (2020). Kesepakatan akan semakin sulit! Pada saat yang sama, rantai pasok China akan hancur dan bisnis, lapangan kerja, serta uang akan hilang!” cuit Trump di Twitter.

Trump sebenarnya marah setelah mengetahui China telah meresmikan rencana untuk mengenakan bea senilai US $ 75 miliar pada produk AS. Langkah tersebut diambil China sebagai tanggapan atas tarif baru dari Washington yang sudah berlaku pada 1 September.

Sebagaimana dilansir CNBC Internasional, Trump sudah berkomunikasi dengan para ajudannya. Bahkan dalam rapat dagang Gedung Putih yang diadakan, Trump meminta menggandakan tarif dari yang sekarang ada.

Di tengah eskalasi perang dagang, data ekonomi AS memberikan pukulan telak. Data yang dirilis oleh Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan aktivitas manufaktur AS terkontraksi alias negatif. Pada Agustus, angka Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur AS tercatat 49,1, turun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 51,2.

Kontraksi tersebut merupakan yang pertama dalam tiga tahun terakhir, sehingga kecemasan akan resesi kembali menyeruak. Emas si safe haven kembali
mendapat momentum penguatan, dan jalan untuk menanjak naik lagi telah terbuka. (Equity World)