Equity World | Wall Street Ambruk Jelang Babak Baru Perang Dagang AS-China

pt equityworld

Equity World | Indeks-indeks acuan Wall Street rontok di akhir perdagangan Kamis (9/5/2019) jelang pemberlakuan rencana kenaikan bea impor terhadap berbagai produk China Jumat dini hari waktu setempat.

Dow Jones Industrial Average turun 138,97 poin atau 0,54%, S&P 500 melemah 0,3%, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,41%. Dow Jones telah kehilangan lebih dari 650 poin sementara S&P 500 anjlok 2,5% sepanjang pekan ini setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan bea masuk terhadap produk China hari Minggu lalu.

Saham-saham memperkecil pelemahannya, Kamis, setelah Trump mengatakan tercapainya kesepakatan dagang dengan China masih mungkin terjadi pekan ini. Dow Jones sempat terjun bebas 450 poin di perdagangan intraday hari itu.

“Masih mungkin untuk melakukannya, mereka semua ada di sini,” kata Trump kepada wartawan, Kamis, dengan merujuk pada delegasi perdagangan China.

“Wakil perdana menteri, salah seorang yang paling dihormati, salah satu pejabat tertinggi China datang ke sini,” tambahnya, dilansir dari CNBC International.

Trump juga mengaku mendapat surat dari Presiden China Xi Jinping yang memberi harapan bahwa damai dagang masih bisa terwujud.

“Beliau menulis surat yang indah kepada saya. Saya baru menerimanya, dan mungkin saya akan menghubungi beliau via telepon,” ungkap Trump, mengutip Reuters.

Salah satu isi surat tersebut adalah “mari bekerja bersama dan kita lihat apa yang bisa kita capai,” ujar Trump menirukan. Setelah membawa surat itu, Trump yakin bahwa AS-China akan bisa mencapai kesepakatan dagang pekan ini.

Delegasi China yang dipimpin Wakil Perdana Menteri Liu He memang tengah berada di Washington Kamis dan Jumat ini untuk melanjutkan perundingan perdagangan.

Liu akan makan malam dengan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan pejabat AS lainnya Kamis malam atau hanya beberapa jam sebelum kenaikan bea masuk diterapkan.

China telah mengatakan akan membalas bila kenaikan bea impor itu benar-benar diberlakukan.

Lagi dan Lagi, Wall Street Dibuka Anjlok Akibat Mulut Trump

Bursa Amerika Serikat (AS) lagi-lagi terpelanting ke zona merah di hari keempat perdagangan pekan ini, menyusul sesumbar Presiden AS Donald Trump yang menuduh China “melanggar perjanjian.”

Pernyataan mantan taipan properti itu membuat pasar dipenuhi kekhawatiran bahwa dua negara dengan perekonomian terbesar dunia tersebut tidak akan mampu mencapai persetujuan dagang hingga membuat perang dagang memasuki babak baru.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 207 poin di pembukaan sebelum surut menjadi 198,8 poin atau 0,77% pukul 08:35 waktu setempat (atau 20:35 WIB). Indeks S&P 500 jatuh 0,81% atau 23,45 poin ke 2.855,3,sedangkan Nasdaq turun 1% atau 82,39 poin ke 7.857,44.

“Omong-omong, Anda lihat kenapa tarifnya berlaku? Karena mereka merusak perjanjian. Mereka merusaknya,” ujar Trump dalam kampanye di Florida Rabu malam, sebagaimana dikutip CNBC International.

Berbeda dari sesumbar Trump, pejabat Gedung Putih pada Rabu kemarin menyatakan bahwa China masih ingin bernegosiasi. China menegaskan bahwa mereka akan membalas perlakuan AS. Namun, delegasi China masih di Washington pekan ini untuk bernegosiasi.

Sampai dengan penutupan kemarin, bursa AS memerah akibat isu perang dagang yang membuat indeks Dow Jones anjlok 540 poin sedangkan indeks S&P 500 melemah hingga 2%. Dengan koreksi pagi ini, Dow terhitung anjlok 740 poin sedangkan S&P kehilangan 3% sepanjang pekan.

Indeks Cboe Volatility Index, yang menghitung volatilitas dalam 30-hari dari indeks S&P 500 menyentuh titik tertinggi sejak 9 Januari di level 22,63. Indeks yang dikenal sebagai VIX ini mendapat julukan sebagai “Indeks Kekhawatiran Pasar”.

Harga saham emiten unggulan seperti Intel juga jatuh. Saham produsen chip computer ini melemah 2% setelah sehari sebelumnya terkoreksi 5% menyusul pernyataan perseroan bahwa pertumbuhan pendapatan dan laba bersihnya bakal di “digit tunggal” dalam 3 tahun ke depan.

Sementara itu, saham Chevron melesat lebih dari 3% pada Kamis setelah perseroan mengatakan tidak akan memberikan angka penawaran baru untuk membeli Anadarko Petroleum.

Hari ini, pelaku pasar di Wall Street juga mencermati rilis beberapa data ekonomi seperti data perdagangan, klaim pengangguran, dan indeks harga produsen. (Equity World)