Equityworld Futures | AS Rusuh & AS-China Panas, Harga Emas Bangkit ke US$ 1.800?

Equityworld Futures | Harga emas dunia naik tipis pada perdagangan spot pagi ini dan berada pada tren penguatan sejak Kamis pekan lalu (28/5/2020). Depresiasi dolar AS di hadapan mata uang lainnya yang tercermin dari tren penurunan indeks dolar menjadi salah satu faktor pendorong penguatan emas.

Selasa (2/6/2020) pada 07.45 WIB, harga emas di pasar spot bertambah 0,04% ke US$ 1.740,77/troy ons. Sejak Rabu (27/5/2020) pekan lalu, harga emas tercatat telah naik sebesar 1,92%.

Pada periode yang sama, indeks dolar yang mengukur posisi dolar greenback di hadapan enam mata uang lainnya terus melemah. Depresiasi dolar AS membuat harga emas yang dibanderol dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga hal ini membuat emas sebagai aset safe haven menjadi lebih menarik. Apalagi di tengah berbagai kondisi yang tak kondusif seperti sekarang ini.

Walau kabar dari kemajuan pengembangan vaksin corona & kembali dibukanya perekonomian sempat membuat harga emas tertekan, tetapi dalam sepekan terakhir kondisi di AS diwarnai kerusuhan akibat gelombang demonstrasi yang meluas di beberapa negara bagian akibat tewasnya seorang warga kulit hitam bernama George Floyd.

Sebagai akibatnya 5 negara bagian Texas, Ariozona, Georgia, Missouri dan Minnesota menyatakan status darurat. Sementara itu, 40 kota menerapkan kebijakan jam malam.

Di sisi lain konflik Washington dan Beijing terus tereskalasi pasca Kongres Rakyat Nasional (NPC) China menyetujui draft undang-undang keamanan baru bagi Hong Kong yang merupakan wilayah administratifnya.

AS merasa bahwa Hong Kong sudah tak otonom lagi seperti dahulu dan sekarang berada dalam kendali China. Merespons hal tersebut, Washington mengatakan akan mencabut status istimewa Hong Kong untuk menghukum Beijing.

Sebagai balasannya, China berbalik menyerang AS dengan meminta para BUMN miliknya untuk menghentikan pembelian kedelai dan daging babi asal AS. China juga dikabarkan menangguhkan impor jagung dan kapas dari AS, melansir CNBC International.

China bisa saja memperluas daftar produk pertanian AS yang akan ditangguhkan impornya jika Negeri Adidaya itu mengambil tindakan lebih lanjut, menurut seorang sumber yang familiar dengan isu ini.

“China telah meminta perusahaan-perusahaan negara [BUMN] untuk menangguhkan pembelian besar-besaran produk pertanian A.S. seperti kedelai dan babi, sebagai tanggapan atas reaksi A.S. ke Hong Kong,” kata sumber itu. “Sekarang kita akan menonton dan melihat apa yang dilakukan A.S. selanjutnya,” tambahnya.

China siap menghentikan impor lebih banyak produk pertanian dari Amerika Serikat jika Washington mengambil lebih banyak tindakan terhadap Hong Kong, kata sumber itu.

Para importir China telah membatalkan 10.000 hingga 20.000 ton pengiriman daging babi Amerika – setara dengan pesanan sekitar satu minggu dalam beberapa bulan terakhir – mengikuti komentar Trump pada hari Jumat, kata sumber itu.

Dalam skenario terburuk, jika Trump terus menargetkan Cina, Beijing harus membatalkan kesepakatan perdagangan Fase 1, sumber kedua yang mengetahui rencana pemerintah mengatakan.

“Tidak mungkin Beijing dapat membeli barang dari AS ketika menerima serangan konstan dari Trump,” kata orang itu.

China berjanji untuk membeli produk pertanian AS senilai 32 miliar dolar AS selama dua tahun di atas garis dasar berdasarkan angka 2017, berdasarkan kesepakatan perdagangan awal kedua negara yang ditandatangani pada Januari.

China telah membeli kedelai, jagung, gandum, dan soyoil dari Amerika Serikat tahun ini, untuk memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan perdagangan. Beijing juga meningkatkan pembelian daging babi A.S., setelah demam babi Afrika yang mematikan memusnahkan kawanan babinya.

Departemen Pertanian AS melaporkan bahwa China membeli kedelai senilai $ 1,028 miliar dan daging babi $ 691 juta pada kuartal pertama tahun 2020.

Importir swasta belum menerima perintah pemerintah untuk menangguhkan pembelian produk pertanian A.S., menurut sumber ketiga dengan rumah dagang utama, tetapi pembeli komersial sangat berhati-hati saat ini, tambah orang tersebut.

“Ada kekhawatiran yang berkembang bahwa kesepakatan perdagangan Fase Satu AS-China akan segera dibatalkan,” kata Edward Moya, seorang analis pasar senior di broker OANDA, mengutip Reuters.

“Namun di sisi teknis, harga spot sekarang semakin dekat dengan resistance yang ditempatkan di US$ 1.750. Naik dari level tertinggi sebelumnya  di US$ 1.747 pada penutupan dan US$ 1.765 intraday. Hal ini akan membuka ruang untuk kenaikan lebih lanjut,” kepala analis ActivTrades, Carlo Alberto De Casa mengatakan dalam sebuah catatan.