Equityworld Futures | Gara-gara China, Harga Emas Bisa Jeblok?

pt equityworld emas

Equityworld Futures | Harga emas dunia dibuka menguat pada perdagangan hari ini. Namun seiring berjalannya waktu, harga logam mulia ini putar balik melemah.

Serangkaian data dari China menunjukkan kondisi ekonomi Negeri Tirai Bambu membaik memasuki kuartal-III 2019 membuat kecemasan pelaku pasar sedikit hilang. Efeknya permintaan emas sebagai aset safe haven menjadi berkurang.

Meski pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 6,2% pada kuartal II-2019 (terendah sejak dalam 27 tahun terakhir), tetapi data produksi industri dan penjualan ritel di bulan Juli menunjukkan peningkatan.

Data yang dirilis dari Beijing menunjukkan produksi industri naik 6,3% year-on-year (YoY) dan penjualan ritel 9,8% YoY, dibandingkan bulan Juni sebesar 5,2% dan 9,8%.

Namun, untuk jangka menengah dan panjang outlook harga emas dunia masih positif mengingat Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserves/The Fed akan memangkas suku bunga acuan. Emas merupakan aset tanpa imbal hasil, sehingga semakin rendah suku bunga di AS dan secara global, akan memberikan keuntungan yang lebih besar dalam memegang aset emas.

Selain itu, logam mulia sangat terkait dengan nilai tukar dolar AS. Kala greenback melemah, maka harga emas akan naik karena emas adalah komoditas yang dibanderol dengan dolar AS.

Pada pukul 15:00 WIB, emas diperdagangkan di kisaran US$ 1.413/troy ounce.

Harga emas di pasar spot tertekan pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta) karena kenaikan bursa saham global. Investor cukup optimistis melihat data ekonomi China.

Mengutip CNBC, Selasa (16/7/2019), harga emas di pasar spot turun sekitar 026 persen menjadi USD 1.411 per ounce. Sedangkan harga emas berjangka naik 0,1 persen menjadi USD 1.413 per ounce.

Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua China turun ke level terendah dalam 26 tahun di angka 6,2 persen. Meskipun turun tetapi angka tersebut sesuai dengan prediksi analis.

Beberapa data-data lain seperti produksi industri, penjualan ritel dan investasi di perkotaan sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar.

“Pasar saham melihat data ini secara positif dan beberapa investor mulai memindahkan risiko investadi ke luar emas,” jelas Bart Melek, analis TD Scurities di Toronto.

Bursa saham dunia naik ke level tertinggi dalam 18 bulan setelah keluarnya data-data ekonomi dari China tersebut. Tentu saja, kenaikan bursa saham tersebut memberikan tekanan kepada harga emas.

Sementara, dolar AS menguat terhadap beberapa mata uang utama dunia. Penguatan ini memberikan beban kepada emas karena investor harus mengeluarkan uang yang lebih banyak jika bertransaksi dengan mata di luar dolar AS.

“Dolar AS nampaknya telah mendapat beberapa dukungan dan hal tersebut menjadi beban bagi harga emas,” kata Tai Wong, analis BMO.

Investor tengah menunggu data lain pada pekan ini. Data-data tersebut antara lain penjualan ritel AS dan produksi industri. Hal tersebut untuk melihat pertumbuhan ekonomi negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut.

Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) merilis Beige Book pada Rabu nanti. Pelaku pasar akan melihat arah kebijakan bank sentral dari laporan tersebut.

Selain itu, pelaku pasar juga akan melihat pandangan the Fed mengenai perang dagang dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi. (Equityworld Futures)