Equityworld Futures | Bukan Sekadar Mimpi Biasa, Ini 5 Alasan Masuk Akal Kenapa Manusia Alami Mimpi Buruk

pt equityworld

Equityworld Futures | Sejak kecil mungkin banyak orang yang dibiasakan sama orangtuanya berdoa dulu sebelum tidur. Salah satu tujuannya simpel yaitu supaya dapat mimpi yang baik. Percaya nggak percaya, katanya sih mimpi kadang ada benarnya. Entah dari kejadian yang sama seperti dalam mimpi atau sekadar makna yang tersirat saja.

Kalau mimpinya baik memang nggak jadi masalah, tapi beda kalau ternyata yang datang adalah mimpi buruk. Maklum, banyak yang percaya kalau mimpi buruk akan berakibat jelek sama orang yang memimpikannya. Sebelum ketakutanmu makin bertambah gara-gara mimpi buruk.

1. Mimpi buruk lebih sering dialami anak-anak akibat dengar cerita atau nonton film seram

Menurut American Academy of Sleep Medicine (AASM), mimpi buruk lebih sering dialami anak-anak lantaran kebiasaan mereka dengar cerita atau nonton film seram. Hal ini biasa terjadi pada 10-50 persen anak-anak usia 5 dan 12 tahun. Selain itu, mereka pun bisa mengalami mimpi buruk karena rasa cemas dan stres yang dipengaruhi lingkungan sekitar, baik yang terjadi di sekolah atau di rumah. Di sisi lain, orang dewasa yang mendapat mimpi buruk hanya sekitar 2-8 persen dengan pemicunya yang pun nggak jauh beda.

2. Pada dasarnya bermimpi adalah proses berpikir yang berlanjut dari hari ke hari

Menurut analis mimpi profesional dan penulis Dream On It, Unlock Your Dreams, Lauri Quinn Loewenberg, seperti dilansir dari Medical Daily mengatakan kalau bermimpi sebenarnya adalah proses berpikir. Mimpi yang selama ini dialami manusia merupakan kelanjutan dari aliran pikiran dari hari ke hari. Nah, mimpi buruk terjadi ketika seseorang memikirkan masalah yang sulit selama Rapid Eye Movement (REM) dan mencoba memilah-milahnya. Tapi, konflik yang belum terselesaikan bukan satu-satunya penyebab mimpi buruk karena kebiasaan makan yang buruk juga dapat berkontribusi pada frekuensi teror dalam tidur ini.

3. Sering makan camilan tengah malam dan konsumsi makanan yang sebenarnya punya alergi juga menimbulkan mimpi buruk

Kebiasaan makan yang tidak tepat ternyata mampu menimbulkan mimpi buruk, semisal setelah makan camilan saat tengah malam. Jenis camilan yang kandungan karbohidratnya tinggi, lalu dikonsumsi saat larut malam dapat meningkatkan aktivitas otak dan metabolisme tubuh. Selain itu bagi seseorang yang nggak sadar dirinya punya alergi, namun malah konsumsi makanan penyebab alergi, maka dia akan mengalami mimpi buruk.

Praktisi kesehatan holistik yang berpraktik di New York, Amerika Serikat, Carol Wasserman, mengungkapkan kalau dirinya tidak menyadari dia alergi terhadap udang dan bermimpi buruk setelah konsumsi. Setiap Wasserman makan udang, dia mengalami malam yang gelisah dan mimpi buruk. Karena itu, dia berhenti makan udang dan sekarang bisa tidur nyenyak.

4. Lalu, seperti apa mimpi buruk yang dialami orang dewasa?

Mimpi buruk pada orang dewasa bisa spontan, tapi umumnya dipicu faktor psikologis seperti kecemasan, depresi, dan gizi buruk. Selain itu, gangguan tidur seperti sleep apnea dan restless legs syndrome dapat menyebabkan seseorang bermimpi buruk kronis dan terjadi secara berulang. Mimpi buruk sering terjadi di sepertiga malam dan berhubungan dengan aktivitas otak yang tinggi, pergerakan mata yang cepat dan menghambat aktivitas motorik secara sukarela.

5. Orang yang memiliki kemampuan fisik yang kurang seperti orang buta lebih sering mengalami mimpi buruk

Ketakutan sehari-hari seperti kecelakaan mobil, diketahui memicu mimpi buruk orang buta. Sebuah penelitian pada 2014 menemukan fakta baru kalau orang buta bisa mimpi buruk empat kali lebih banyak daripada manusia dengan fisik normal. Studi ini membenarkan mimpi buruk juga berkaitkan dengan emosi orang buta saat bangun tidur, yaitu khawatir mengalami situasi sosial memalukan semisal menumpahkan secangkir kopi.

Hidup bahagia yang dialami belum tentu membebaskan seseorang dari mimpi buruk. Karena trauma masa lalu bisa menyebabkan mimpi buruk datang. Untuk itu, cobalah berbicara kepada diri sendiri saat sebelum tidur dan setelah bangun tentang berbagai hal positif yang telah dialami maupun akan terjadi dalam hidup. Karena hal itu diyakini para peneliti dapat membantu manusia menghadapi mimpi buruk. (Equityworld Futures)