Equityworld Futures – Mempelajari ilmu komputer ternyata tak selalu rumit dan butuh waktu lama. Setidaknya, untuk sekadar memahami konsep dasar dan berkenalan dengannya, bisa dilakukan dalam 4 menit saja atau dalam istilah Microsoft disebut sebagai speed geeking.

Equityworld Futures – Untuk memahami bahasa coding dalam 4 menit, bisa menggunakan dua peranti lunak milik Microsoft, yakni Kodu dan Hour of Code: Minecraft.

Karena memang dirancang khusus untuk anak-anak, konten pelajaran coding pun disajikan dengan sangat sederhana dan menyenangkan, layaknya sebuah game saja.

Namun, benarkah semudah itu? Benarkah hanya butuh 4 menit untuk mempelajari dasar-dasar coding menggunakan dua aplikasi tersebut?

Saat menghadiri konferensi Microsoft Philantropies yang diselenggarakan 28-29 Juni lalu, KompasTekno sempat menjajal kedua aplikasi itu.

Microsoft sendiri hanya memberi waktu 4 menit untuk menjajal masing-masing aplikasi, seraya mencoba menunjukkan bahwa mengenal dasar pemrograman komputer itu sesuatu yang mudah.

KompasTekno sempat bengong melihat penjelasan dari setiap aplikasi tersebut. Bukan karena penjelasannya sulit, melainkan memang sama sekali tak mengenal dasar-dasar atau logika mengenai pemrograman.

Namun harus diakui kedua aplikasi yang dipakai membuat perkenalan dengan ilmu pemrograman berjalan mulus.

Total waktu 8 menit -4 menit untuk masing-masing aplikasi-, memang tak langsung menjadikan KompasTekno programmer jagoan, tapi setidaknya menunjukkan bahwa ilmu komputer tak melulu berisi barisan kode yang kaku dan njelimet.

Bicara dengan komputer

Untuk bisa membuat sebuah aplikasi komputer, sesorang mesti mempelajari bahasa komputer. Ini adalah rangkaian yang terdiri dari logika, algoritma, dan bahasa pemrograman tertentu, seperti Java atau Swift

Hour of Code yang dibuat Microsoft merupakan cara sederhana memperkenalkan logika pemrograman. Ini merupakan dasar yang penting sebelum melangkah ke pelajaran mengenai  algoritma atau pembuatan aplikasi.

Yoga Hastyadi Widiartanto/Kompas.com Blessin Varkey, seorang erwakilan NGO asal India, Tamana, menjelaskan mengenai Hour of Code yang dipakai untuk mengajarkan ilmu pemrograman pada anak-anak, di Singapura, Rabu (29/6/2016)

Blessin Varkey, wakil dari organisasi non pemerintah asal India Tanama, mencontohkannya dengan bahasa pemrograman untuk membuat web. Singkatnya, Anda menulis sebuah teks perintah dalam bahasa komputer di suatu aplikasi dan aplikasi lain yang membacanya akan menjalankan perintah tersebut.

Selama satu menit, Varkey menjelaskan dasar mengenai pemrograman untuk web dan kami mencobanya. Ada sebuah aplikasi Notepad berisi tiga baris kode, kemudian sebuah browser Google Chrome menampilkan latar polos berwarna biru.

“Anda lihat tulisan <html> dan </html>? Pada dasarnya Anda memakai kode untuk bicara dengan komputer. Kemudian masukkan kode yang diinginkan di antara kedua tulisan tersebut, maka kode itulah yang akan dijalankan,” urainya singkat.

Ia kemudian menunjukkan serangkaian kode yang dimasukkan ke dalam Notepad dan browser yang membaca kode tersebut berubah sesuai dengan perintah. Mulai dari mengubah latar belakang menjadi warna lain, hingga memasukkan sebuah teks.

“Ini adalah bahasa untuk membuat web HTML. Cara kerja Hour of Code lebih kurang seperti ini. Masukkan kode sebagai alat berkomunikasi yang bisa dipahami oleh komputer dan komputer akan memprosesnya. Bedanya, Hour of Code menggunakan pemrograman visual, mudah dipelajari anak,” terangnya lalu melanjutkan dengan membuka Hour of Code edisi Minecraft.

Visual Programming

Sebenarnya ada berbagai versi Hour of Code, mulai dari Minecraft hingga Flappy Bird. Namun, kami memutuskan untuk menghabiskan jatah 3 menit yang tersisa untuk  mempelajari coding melalui Hour of Code edisi Minecraft.

Alur pelajarannya memang sederhana. Setelah membuka aplikasi, Anda akan berhadapan dengan tokoh game tersebut yang diberi serangkaian tugas. Cara menyelesaikan tugas tersebut adalah dengan merangkai sebuah perintah.

Yoga Hastyadi Widiartanto/Kompas.com Contoh blok-blok perintah pada aplikasi Hour of Code edisi Minecraft

Pelajar dan pengajar yang memakai modul atau aplikasi Hour of Code ini akan dihadapkan dengan metode visual programming atau pemrograman visual. Tak ada barisan kode yang terlihat. Hanya sebuah kotak berisi tokoh Minecraft, definisi tugas yang mesti dilakukan, dan blok-blok berisi tulisan perintah.

Contohnya, saat diberi perintah menebang sebuah pohon. Blok perintah yang tersedia adalah “bergerak maju”, “belok kanan”, “belok kiri”, atau “hancurkan objek”.

Untuk menyelesaikan tugas, cukup menyusun blok-blok perintah dalam urutan logika: jika menekan tombol “Run” maka karakter akan melakukan (isi dengan blok yang sesuai).

Tekan tombol Run dan karakter Minecraft akan bergerak. Selanjutnya akan terlihat apakah blok yang dipilih sudah tepat atau perlu diganti.

Dengan cara demikian, anak-anak diajarkan urutan logika untuk menggerakkan tokoh sebuah permainan tanpa harus melihat berbagai kode pemrograman yang rumit. Namun saat di sisi lain, Hour of Code juga menyediakan bentuk asli barisan kode itu untuk siapapun yang ingin belajar lebih dalam.

“Blok itu sebenarnya berisi sebuah kode pemrograman. Setelah menyelesaikan perintah, cukup pilih Show Code untuk melihat barisan kode yang tadi digunakan,” pungkas Varkey menutup sesi penjelasan mengenai Hour of Code.

Belajar dari bermain

Setelah menjajal Hour of Code, KompasTekno memutuskan untuk mencoba aplikasi Kodu buatan Microsoft dalam durasi yang sama, yaitu 4 menit. Pada dasarnya aplikasi ini juga menggunakan metode pemrograman visual, namun dengan tujuan berbeda.

Kodu dirancang untuk menumbuhkan minat anak terhadap dunia pemrograman dan memperkenalkan logika pemrograman. Semua hal itu dibalut sebagai sebuah permainan dengan logika.

Yoga Hastyadi Widiartanto/Kompas.com Microsoft Student Partner Singapura, Sherry Wong saat menjelaskan mengenai Kodu Gamelab, sebuah aplikasi yang dipakai untuk memperkenalkan ilmu pemrograman pada anak-anak, di Singapura, Rabu (29/6/2016)

Pelajar mengendalikan sebuah robot bernama Kodu yang bisa bergerak dan melakukan apapun sesuai dengan perintah yang diberikan. Perintah tersebut diberikan berdasarkan logika  “Ketika (When) ‘. . .’, lakukan (Do) ‘. . .’”.

“Contohnya jika saya membuatnya menjadi ‘Ketika menekan tombol W pada keyboard, lakukan bergerak ke depan’. Setelah memasukkan perintah itu, dan saya menekan tombol W, maka Kodu akan bergerak ke depan,” terang Microsoft Student Partner Singapura, Sherry Wong, kepada wartawan Kompas.com, Yoga Hastyadi Widiartanto.

Ia menambahkan, banyak hal yang bisa dilakukan oleh Kodu. Intinya aplikasi tersebut merupakan sebuah permainan yang membuat pemainnya bisa menciptakan suatu dunia dengan berbagai isinya menggunakan logika pemrograman.

Pelajar bisa memerintahkan Kodu untuk menanam banyak pohon, lari ketika melihat tanda-tanda tertentu serta bermacam rangkaian kondisi dan aksi lainnya. Karen berbentuk permainan seperti ini, Kodu dinilai cocok untuk meningkatkan gairah belajar coding pada anak-anak usia 8 tahun ke atas.

Microsoft membebaskan siapapun untuk memakai kedua aplikasi tersebut. Bila ingin menjajal Hour of Code dengan berbagai versinya, Anda bisa mengunjungi link ini. Bila ingin mencoba Kodu, dapat mengunduhnya melalui link ini.

Keduanya adalah contoh materi pengajaran ilmu komputer untuk anak-anak. Saat ini ada berbagai organisasi non pemerintah yang menggunakannya sebagai alat bantu pengajaran. Salah satu yang memakainya di Indonesia adalah Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Foundation. Equityworld Futures