Equityworld Futures | Emas Dunia Bisa Tembus US$ 3.000, Emas Antam Bisa Berapa?

PT Equityworld

Equityworld Futures | Harga emas dunia melemah di perdagangan Jumat pekan lalu (27/3/2020), kendati dalam sepekan terakhir harga emas dunia masih mencetak penguatan tajam seiring dengan permintaan emas menjadi aset aman alias safe haven.

Pergerakan emas bagai roller coaster sepanjang Maret ini. Di awal pekan, Senin (9/3/2020), harga emas sempat melesat hingga menyentuh US$ 1.702,56/troy ons yang merupakan level tertinggi sejak Desember 2012. Namun selepas itu, emas justru terus merosot.

Data Refinitiv mencatat, di penutupan perdagangan Jumat (20/3/2020), harga emas berada di level US$ 1.497,64/troy ons, atau ambles lebih dari 12% dari level tertinggi tersebut. Adapun sepanjang pekan lalu (23-27 Maret), harga logam mulia ini kembali melesat 8% di US$ 1.617,5/troy ons.

Harga emas dunia pun diprediksi bisa melesat lagi, bukan hanya sampai US$ 2.000/troy ons, tapi bahkan bisa lebih dari itu seiring dengan ketidakpastian ekonomi akibat dampak virus corona (COVID-19) di seluruh dunia.

Di AS, bank sentralnya, yakni The Fed (Federal Reserve) akan menerapkan program pembelian aset (quantitative easing/QE) dengan nilai tanpa batas. Berapapun akan digelontorkan agar likuiditas di perekonomian AS tidak mengetat.

Tak hanya bank sentral, Pemerintah AS juga menggelontorkan stimulus fiskal dengan nilai jumbo. Jumat waktu AS, Presiden AS sudah menandatangani undang-undang stimulus senilai US$ 2 triliun. Angka tersebut dua kali lipat dari nilai perekonomian Indonesia.

Banyak analis melihat kebijakan The Fed akan membawa harga emas dunia menguat naik. Namun salah satu perusahaan trading di Asia, WingCapital Investment lebih melihat peningkatan belanja pemerintah dengan gelontoran stimulus tersebut dapat menaikkan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) akan membawa harga emas terbang tinggi.

“Secara historis kami melihat rasio utang terhadap PDB memiliki korelasi yang lebih besar dibandingkan dengan balance sheet [neraca] The Fed [terhadap harga emas],” tulis analis WingCapital yang dikutip Kitco.com.

Dengan kondisi saat ini, harga emas diprediksi akan mencapai US$ 3.000/troy ons dalam 3 tahun ke depan.

Analis tersebut melihat pada periode sebelumnya ketika emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa US$ 1.920/troy ons pada September 2011, reli tersebut berakhir ketika laju kenaikan rasio utang terhadap PDB AS mulai menurun.

Untuk saat ini, belanja masif pemerintah AS guna memerangi COVID-19 diprediksi akan membengkakkan defisit anggaran, hingga rasio utang terhadap PDB akan menyamai ketika perang dunia II ketika naik sebesar 30% tahun ini. Sementara itu, beberapa analis lainnya melihat rasio tersebut akan naik sekitar 10% sampai 14%.

Satu troy ons, mengacu aturan di pasar, setara dengan 31,1 gram, sehingga besaran US$ 3.000 per troy ounce dikonversi dengan membagi angka tersebut dengan 31,1 gram, hasilnya US$ 96,46 per gram. Dengan asumsi kurs rupiah Rp 16.000/US$, maka prediksi harga emas tahun ini bisa menembus Rp 1,54 juta/gram.

Terkait dengan wabah COVID-19, jumlah korban terus bertambah. Berdasarkan data Johns Hopkins CSSE hingga Ahad (29/3) sudah lebih dari 170 negara yang terpapar COVID-19, lebih dari 660.000 orang terinfeksi, dengan 30.652 orang meninggal dunia, dan lebih dari 139.000 sembuh.

AS kini menjadi negara dengan jumlah kasus COVID-19 terbanyak di dunia mengalahkan China yang merupakan asal pandemi ini. Hingga tercatat ada 122.666 kasus positif COVID-19, dengan korban meninggal lebih dari 2.000 orang dan yang sembuh lebih dari 1.000 orang.

Banyak negara menerapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown) yang membuat aktivitas ekonomi merosot tajam. Akibatnya, perekonomian global melambat signifikan, resesi di beberapa negara bukan lagi kemungkinan, tetapi di depan mata.