Equityworld Futures | Emas Naik Ditopang Penurunan Dolar dan Ekuitas AS

pt equityworld

Equityworld Futures | Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena indeks dolar dan ekuitas AS turun di tengah kekhawatiran tentang pertumbuhan.

Sejak pekan lalu, data ekonomi suram dari negara-negara Eropa utama dan prospek berhati-hati Federal Reserve AS untuk ekonomi AS, telah menyebabkan kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,07 persen menjadi 25.484,76 poin pada pukul 17.41 GMT pada Senin (25/3), indeks S&P 500 dan indeks Komposit Nasdaq juga mengikuti penurunan Dow.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, melemah 0,09 persen menjadi 96,55 pada pukul 17.29 GMT, tepat sebelum penyelesaian perdagangan emas.

Jika dolar AS jatuh maka emas biasanya akan naik, karena logam mulia yang dihargakan dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lainnya.

Pada akhir sesi, emas untuk penyerahan April yang paling aktif, naik 10,30 dolar AS atau 0,78 persen, menjadi ditutup pada 1.322,60 dolar AS per ounce.

Sementara itu, logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Mei naik 16 sen AS atau 1,04 persen menjadi ditutup pada 15,567 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman April naik 9,30 dolar AS atau 1,1 persen, menjadi berakhir di 857,70 dolar AS per ounce.

Harga Emas Naik karena Kekhawatiran Pertumbuhan Ekonomi Global

Harg emas naik ke level tertinggi dalam tiga pekan pada perdagangan Senin dibantu oleh pelemahan dolar AS dan karena kekhawatiran pertumbuhan ekonomi global yang mendorong investor mengoleksi aset safe haven.

Mengutip CNBC, Selasa (26/3/2019), harga emas di pasar spot naik 0,5 persen menjadi USD 1.320,94 per ounce, setelah menyentuh level tertinggi sejak 28 Februari di USD 1.321,13 per ounce. Pekan lalu membukukan kenaikan mingguan ketiga berturut-turut, naik sekitar 1 persen.

Sedangkan untuk harga emas berjangka AS diselesaikan USD 10,30 lebih tinggi ke level USD 1.322,60 per ounce.

“Pelemahan pasar saham, indeks colar AS dan suku bunga yang tak naik membantu kenaikan harga emas,” jelas George Gero, managing director RBC Wealth Management.

Pasar saham pada Senin mencapai level terendah dalam 12 hari di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global setelah inversi dalam kurva imbal hasil obligasi AS pada Jumat memicu kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar dunia itu menuju resesi.

Hal tersebut meningkatkan permintaan untuk aset seperti emas dan yen sementara menekan dolar AS.

Gejolak politik di Inggris sehubungan dengan keluarnya negara itu dari Uni Eropa, yang dikenal sebagai Brexit, juga meningkatkan daya tarik safe haven emas.

“Kekhawatiran Brexit dan mendekati kedaluwarsa opsi dapat terus mendukung harga emas. Tapi, belum tentu cukup untuk mendorong harga menuju USD 1.350 per ounce,” kata Gero.
Harga Emas Berpotensi Naik pada Pekan Ini

Harga emas mampu menguat selama tiga minggu berturut-turut di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Akan tetapi, banyak analis mengingatkan investor untuk abaikan volatilitas jangka pendek.

Ini karena dolar AS dan fokus tren jangka pendek yang menguat usai the Federal Reserve atau bank sentral AS berubah secara jelas menjadi dovish atau kurang agresif, menurunkan pertumbuhan dan harapan suku bunga pada 2019.

Optimisme tetap kuat di pasar emas meski emas hanya mampu mempertahankan kenaikan selama sepekan.

Harga emas berjangka untuk pengiriman April naik 0,73 persen menjadi USD 1.312,40. Adapun indeks dolar AS menguat telah bebani pergerakan harga emas.

Pada akhir minggu, dolar AS cenderung tidak berubah usai alami penurunan hampir satu persen usai bank sentral AS menyatakan tidak ada kenaikan suku bunga pada 2019.

Hal ini berbeda dari harapan pada Desember 2018 yang memperkirakan kemungkinan suku bunga acuan the Federal Reserve naik dua kali.

Pada saat sama, bank sentral juga menurunkan perkiraan pertumbuhannya dengan melihat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 2,1 persen pada 2019. Angka ini turun dari perkiraan Desember sebesar 2,3 persen.

Banyak analis komoditas abaikan kekuatan dolar AS baru-baru ini. Hal ini karena melemahnya mata uang lain. Pada Jumat pekan lalu, euro turun karena sektor manufaktur Jermang mengecewakan. Pound Inggris juga melemah seiring proses Britain Exit (Brexit).

“Saat ini kita berada di dunia yang tidak jelas apa yang bisa gantikan dolar AS,” tutur Analis CMC Markets, David Madden seperti dikutip dari laman Kitco, Senin (25/3/2019). (Equityworld Futures)