Equityworld Futures | Geolog berharap erupsi Gunung Agung tidak eksplosif seperti 1963

PT Equityworld 48

Equityworld Futures | Abu vulkanik Gunung Agung yang terbang ke sisi timur dan tenggara Bali menutup jalur penerbangan di sekitar Mataram.

“Penutupan ini dilakukan karena alasan keamanan. Pendaratan dari segala penjuru sudah tidak memungkinkan,” ujar Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso kepada pers di Tangerang, Banten, kemarin.

Meski Lombok Praya ditutup, pemerintah meminta Bandara Ngurah Rai yang berada di Denpasar tetap beroperasi secara normal. Agus menuturkan, Ngurah Rai tidak terpengaruh abu vulkanik karena berada di barat daya Kabupaten Karangasem, lokasi Gunung Agung.

“Arah pendaratan ke Denpasar akan dipandu operator. Pesawat yang hendak mendarat tidak boleh dari tenggara. Jalannya harus memutar biar aman,” kata Agus.

Ditemui dalam kesempatan yang sama, Direktur Operasional Airnav Wisnu Darjono berkata, penerbangan menuju Mataram dapat dialihkan ke sejumlah bandara di kota-kota lain, seperti Surabaya, Kupang, dan Makassar.

Walau Bandara Ngurah Rai tetap beroperasi, hingga hingga pukul 17.00 WITA hari Minggu (26/11), setidaknya 43 penerbangan domestik dan internasional, baik dari dan menuju Denpasar, dibatalkan sejumlah maskapai.

Agus mengatakan dalam dua hari terakhir terdapat 19 maskapai yang urung menerbangkan pesawat ke Denpasar dan Lombok karena aktivitas Gunung Agung. Maskapai itu antara lain Qantas Airways, KLM, Jetstar, Garuda Indonesia, dan AirAsia.

“Sudah ada 19 pesawat internasional yang dibatalkan dan ada beberapa pesawat domestik yang khawatir kalau ke sana akan terjebak,” kata Wisnu.

Sementara itu, menurut pantauan, erupsi Gunung Agung dalam dua hari terakhir tidak memicu kepanikan massal di Kabupaten Karangasem, terutama di desa-desa yang berada dalam radius enam hingga 7,5 kilometer dari puncak.

Gusti Ngurah, warga Desa Besakih yang rumahnya berjarak enam kilomter dari puncak Gunung Agung menyebut rumahnya dihujani abu vulkanik. Masyarakat di desanya juga mencium bau belerang yang menyengat.

“Ada hujan tapi abu, deras sekali. Bau belerang juga,” ujarnya kepada wartawan di Bali, Raiza Andini.

Gusti berinisiatif untuk kembali ke Pos Pengungsian UPT Rendang. Ketika status Gunung Agung dinyatakan awas, September lalu, ia dan keluarganya mengungsi di sana, tapi kembali ke desa saat status gunung api itu diturunkan ke level siaga, akhir Oktober.

Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Karangasem, Gede Wastika, mengimbau warga di kaki Gunung Agung untuk tidak mengungsi keluar wilayah kabupaten. Apalagi, kata dia, saat ini sekelompok masyarakat di Karangasem secara mandiri membangun dan menyediakan tenda pengungsian.

“Kami sosialisasikan, pilihlah pengungsian yang di dalam kabupaten dulu. Kami sudah tunjuk beberapa daerah aman,” kata Gede Wastika.

September lalu, jumlah pengungsi Gunung Agung mencapai lebih dari 140.000 orang. Mereka tersebar di berbagai pos pengungsian di sembilan kabupaten dan kota di Bali.

Hingga pukul 18.00 WITA hari Minggu (26/11), Pemkab Karangasem mencatat terdapat 23.000 orang di 224 titik pengungsian di seluruh Bali. Mayoritas di antara pengungsi itu, sekitar 11.000 orang, berlindung di kawasan Karangasem.

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, Gede Suantika, memperkirakan erupsi perlahan Gunung Agung yang bersifat epusif dapat berlangsung sekitar satu bulan.

Ia berharap letusan eksplosif seperti tahun 1963 tidak terjadi.

“Kalau tiba-tiba terjadi penambahan debit volume yang keluar dalam waktu singkat, sementara ruang yang dimiliki terlalu kecil, kemungkinan itu dapat menimbulkan ledakan. Itu yang kami takutkan,” kata Gede.

Gunung Agung terakhir kali meletus pada 1963.

Sebelum memuntahkan material vulkanik, gunung itu erupsi selama sekitar satu tahun. Dalam catatan beberapa jurnal ilmiah, letusan itu menewaskan lebih dari 1.500 orang.

Letusan Gunung Agung itu juga disebut menurunkan suhu Bumi sebesar 0,4 derajat Celsius. Penyebabnya, material vulkanik berupa aerosol sulfat dari gunung itu terbang hingga jarak 14.400 kilometer dan melapisi atmosfer Bumi.

Letusan itu juga disertai abu vulkanik yang ke luar vertikal dari kawah Gunung Agung setinggi 20 kilometer. (Equityworld Futures)