Equityworld Futures | Harga Emas Naik untuk Ketiga Kalinya secara Berturut-turut

PT Equityworld

Equityworld Futures | Harga emas berjangka menguat pada akhir perdagangan Senin (12/10/2020) waktu setempat (Selasa pagi WIB).

Hal ini merupakan kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut, di tengah kekhawatiran investor atas ketidakpastian rancangan undang-undang bantuan virus corona ketika pemilu AS kurang dari sebulan lagi. Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi COMEX New York Mercantile Exchange, naik 2,7 dollar AS atau 0,14 persen, ditutup pada 1.928,90 dollar AS per ounce.

Investor prihatin dengan situasi politik AS secara umum saat pemilu AS akan berlangsung kurang dari sebulan lagi dan ada ketidakpastian apakah proses politik AS akan dapat mendorong rancangan undang-undang Covid-19 sebelum pemilu atau bahkan mungkin sebelum akhir tahun ini.

Pemerintahan Trump pada Minggu (11/10/2020) meminta Kongres untuk mengesahkan RUU bantuan virus corona yang dilucuti menggunakan dana sisa, ketika negosiasi tentang paket yang lebih luas mengalami penolakan. “Kami berbicara triliunan (dalam stimulus) satu hari dan itu miliaran pada hari berikutnya dan itu (mungkin) akan menjadi jutaan berikutnya. Rasanya semakin kecil menjelang pemilihan,” kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago. “Kemungkinan RUU stimulus virus corona AS yang lebih kecil membebani emas,” tambahnya.

Emas telah naik lebih dari 26 persen sepanjang tahun ini dibantu oleh gelontoran stimulus dari pemerintah dan bank sentral global karena dianggap sebagai lindung nilai terhadap risiko inflasi dan pelemahan mata uang. Investor juga mengawasi pemilihan AS yang akan datang yang akan datang dalam beberapa minggu, di mana kandidat Demokrat Joe Biden dianggap lebih mungkin untuk menang. “Emas akan lebih tinggi jika Biden menang karena dia akan mengeluarkan banyak uang,” kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures, menambahkan segala hal yang tidak diketahui pada malam pemilihan juga akan memberikan dukungan. Kenaikan harga emas juga dibatasi karena indeks utama pasar saham AS dan indeks ekuitas di seluruh dunia menguat. Tidak ada laporan ekonomi pada Senin (12/10/2020) karena libur Hari Columbus.

Peluang Harga Emas Kembali Tembus US$2.000 Masih Terbuka

Kebijakan akomodatif dari bank sentral dan prospek hasil pemilu di Amerika Serikat berpotensi mengembalikan harga emas ke level US$2.000 per troy ounce. Peluang mencatat rekor harga baru di sisa tahun 2020 juga masih cukup terbuka.

Dilansir dari Bloomberg, Senin (12/10/2020) harga emas Comex dengan kontrak Desember 2020 terpantau naik 2,30 poin atau 0,12 persen ke level US$1.928,50 per troy ounce hingga pukul 16.15 WIB.

Sementara itu, harga emas di pasar Spot terkoreksi sebesar 8,15 poin atau 0,42 persen ke kisaran (US$) per troy ounce.

Ekonom OCBC Bank Howie Lee dalam risetnya menyatakan, kabar paket stimulus jumbo yang dicari oleh Presiden AS, Donald Trump akan membuat nilai dolar AS terkoreksi sehingga mendorong penguatan harga emas.

“Apabila paket stimulus ini berhasil tercapai, ini akan menjadi katalis utama yang mendorong nilai emas ke US$2.000 per troy ounce. Kami tetap pada posisi bullish dalam jangka waktu menengah-panjang,” katanya dalam riset.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra. Menurutnya, sentimen yang turut berperan dalam pergerakan harga emas adalah pemilihan umum Presiden di Amerika Serikat.

Ia menjelaskan, apabila kandidat presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden, memenangkan pemilu hal ini akan membuat harga emas kian melesat. Pasalnya, dengan prospek kebijakan yang lebih akomodatif, para investor akan lebih percaya diri untuk masuk ke aset-aset seperti emas dan pasar saham.

“Aset emas memang terbilang safe haven. Tetapi, bila dibandingkan dengan dolar AS, risikonya lebih tinggi pada emas,” jelasnya.

Ariston memperkirakan, harga emas di sisa tahun ini masih berpeluang mencapai level US$2.000 per troy ounce. Meski demikian, harga emas akan sulit menembus rekor tertinggi pada tahun 2020 yang pernah dicatatkan pada beberapa waktu lalu.

Ia melanjutkan, harga emas saat ini tengah berada dalam fase konsolidasi dan belum memasuki tren pelemahan. Saat ini, pasar masih menanti sentimen baru yang dapat menurunkan harga emas.

“Sentimen yang dapat menurunkan harga emas adalah kemunculan vaksin untuk Covid-19. Apabila vaksin tersebut sudah direalisasikan, diperkirakan tekanan harga emas untuk turun akan lebih kuat,” imbuhnya.