Equityworld Futures | Hati-hati! Volatilitas Harga Emas Sedang Tinggi

PT Equityworld

Equityworld Futures | Saat krisis kesehatan melanda dunia karena wabah virus corona (Covid-19), fluktuasi harga emas yang tajam menjadi tak terelakkan.

Pada perdagangan pasar spot pukul 08.13 WIB, harga emas sempat menguat 0,1% ke level US$ 1.592,56/troy ons. Namun satu jam berselang, harga emas dunia malah melorot 0,35% ke level 1.585,26/troy ons.

Pada perdagangan kemarin, harga emas melesat 1,24%. Setelah melesat tinggi, harga emas memang rawan terkoreksi akibat adanya aksi profit taking. Emas yang diyakini sebagai aset safe haven saat ini pergerakan harganya juga dipengaruhi sentimen yang hampir sama dengan pasar saham.

Tekanan jual yang masif di bursa saham global membuat investor yang memiliki emas di portofolionya, mau tidak mau harus melikuidasinya untuk menutup margin calls dan kerugian pada investasi di tempat lain.

Kini total jumlah kumulatif orang yang positif terinfeksi virus corona yang diyakini berasal dari Wuhan itu sudah mencapai level 932.000 lebih. Sebanyak kurang lebih 42.000 orang terenggut nyawanya karena tak mampu melawan infeksi virus corona.

Amerika, Italia dan Spanyol menjadi episentrum penyebaran virus corona dengan jumlah kasus kumulatif melebihi angka 100 ribu. Kini ketiganya telah menggeser peringkat China yang dulunya berstatus pemimpin klasemen sebagai negara dengan jumlah kasus infeksi COVID-19 terbanyak di dunia.

Baru-baru ini Gedung Putih merilis perkiraan bahwa wabah corona yang kini menyebar di Amerika Serikat bakal lebih banyak menelan korban ketimbang Perang Dunia I, dan konflik di Vietnam serta Korea.

Estimasi Gedung Putih menunjukkan korban jiwa akibat wabah COVID-19 di AS tahun ini bisa mencapai 100 ribu hingga 240 ribu walaupun kebijakan social distancing diberlakukan.

Ini menjadi kabar buruk untuk pekan ini setelah pasar diwarnai euforia pekan lalu dengan paket stimulus ekonomi jumbo Trump senilai US$ 2,2 triliun dan program pembelian aset oleh The Fed dengan nilai tak terbatas.

Pada penutupan pasar dini hari tadi, bursa saham New York kembali terkapar. Tiga indeks saham utama Paman Sam mencatatkan koreksi. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA), S&P 500 dan Nasdaq Composite harus terkoreksi 4,4%.

Harga emas bak roller coaster memang, bergerak di rentang yang lebar. Apalagi setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan wabah corona sebagai pandemi yang diiringi aksi jual besar-besaran di bursa saham. Harga emas ikut anjlok signifikan.

Selain berperan sebagai aset safe haven, emas kini juga memiliki peran sebagai sumber likuiditas. Likuiditas memang penting apalagi di tengah krisis kesehatan yang terjadi saat ini. Wabah corona merupakan fenomena di lapangan yang menjalar ke sektor finansial.

Semakin banyaknya orang yang terinfeksi virus corona membuat berbagai negara mengambil langkah lockdown untuk menekan laju penularan. Namun lockdown bukan berarti tanpa ongkos.

Adanya lockdown membuat orang-orang tinggal diam di rumah. Pabrik-pabrik tidak beroperasi. Rantai pasok terdisrupsi dan permintaan tertekan. Gambaran ekonomi kembali buram. Hantu resesi kembali bangkit dan menebar teror di pasar yang membuat investor lari menyelamatkan diri.

Data Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur AS bulan Maret berada di angka 49,1. Artinya sektor manufaktur Paman Sam sedang terkontraksi. Padahal bulan sebelumnya masih ekspansi. Hal ini seolah menunjukkan bahwa dampak dari virus corona memang bukan main-main.

Kala ekonomi berada dalam kondisi yang tak kondusif, aset minim risiko seperti emas cenderung diburu. Hal ini membuat harganya terkerek naik. Namun harus tetap waspada lantaran harga emas bisa melorot kapan saja.

Seperti yang sudah-sudah harga emas anjlok dalam saat tekanan jual besar-besaran melanda bursa saham global. Artinya walau emas menyandang predikat safe haven, emas juga berfungsi sebagai sumber likuiditas yang bisa dijual kapan saja di tengah kondisi genting seperti sekarang ini.