Equityworld Futures | Klaim Pengangguran AS Tembus 10 Juta Jiwa, Emas Kian Kinclong

PT Equityworld

Equityworld Futures | Harga emas dunia menguat memasuki perdagangan sesi Amerika Serikat (AS) pada Kamis (2/4/2020) setelah data menunjukkan jumlah klaim tunjangan pengangguran melonjak drastis. Pada pukul 20:27 WIB, emas diperdagangkan di level US$ 1606,04/troy ons, menguat nyaris 1% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan sepanjang pekan lalu jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran sebanyak 6,6 juta. Jumlah tersebut jauh lebih banyak dari estimasi para ekonom sebanyak 4 juta sampai 5 juta orang, sebagaimana dilansir CNBC International.

Pada pekan sebelumnya, jumlah klaim pengangguran dilaporkan sebanyak 3.3 juta, ini berarti rekor kembali pecah. Sebelum ini, rekor klaim pengangguran “hanya” 695.000 dalam sepekan di tahun 1982. Bahkan saat resesi pada 2008 jumlah klaim masih belum memecahkan rekor tersebut yakni sebanyak 665.000 dalam sepekan.

Dengan demikian dalam dua pekan terakhir total jumlah klaim tunjangan pengangguran mencapai 10 juta jiwa.

Peningkatan jumlah klaim yang jauh lebih banyak dari estimasi para ekonom tersebut menunjukkan dampak pandemi virus corona (COVID-19) lebih besar dari yang diperkirakan, dan ancaman resesi di AS semakin nyata. Bahkan, AS bisa jatuh ke jurang depresi seperti yang dikatakan oleh Kepala Ekonom MUFG di New York, Chris Rupkey.

“Sektor manufaktur kembali resesi, bergabung dengan sektor-sektor lainnya. Ini menunjukkan sepertinya yang terjadi adalah depresi, bukan sekadar resesi,” kata Rupkey, seperti diberitakan Reuters.

Risiko terjadinya depresi membuat daya tarik emas kembali meningkat. Meski sejak bulan Maret emas bergerak dengan volatilitas tinggi, yakni naik-turun secara drastis, tetapi emas tetaplah aset yang menyandang status safe haven sehingga sebagian investor tetap memilih emas untuk melindungi kekayaannya.

Beberapa analis memprediksi emas bisa mencetak rekor tertinggi, sebagian lagi meramal emas akan merosot. Kepala strategi global di TD Securities, Bart Melek, memprediksi emas akan ke US$ 1.800/troy ons dalam waktu dekat, bahkan tidak menutup kemungkinan ke US$ 2.000/troy ons akibat kebijakan moneter dan fiskal di AS.

Analis dari WingCapital Investment bahkan lebih bullish lagi, memprediksi emas bisa ke US$ 3.000/troy ons dalam tiga tahun ke depan. Lembaga tersebut melihat stimulus fiskal pemerintah AS dapat menaikkan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) dan membawa emas ke level tersebut.

Kemudian, ahli strategi komoditas di Scotiabank, Nicky Shiels, mengatakan harga emas sudah mencapai level bawah (bottom) di US$ 1.450/troy ons, dan berpeluang mencetak rekor tertinggi.

Berbeda dari ketiganya, analis logam mulia dari IHS Markit, KC Chang, mengatakan ancaman resesi global serta inflasi yang rendah membuat harga emas dunia terancam terus merosot di tahun ini. “Proyeksi kami, emas akan semakin merosot di semester II tahun ini, akibat investor terus beralih ke uang tunai” kata Chang sebagaimana dilansir Kitco News.

Chang melihat harga emas berisiko ambles hingga ke US$ 1.300/troy ons, bahkan bisa ke US$ 1.050/troy ons jika pertumbuhan ekonomi global lebih buruk dari perkiraan para ekonom.

Analis dari Saxo Bank, Ole Hansen, “menengahi” pendapat para analis lainnya.

“Bull [pelaku pasar yang memprediksi emas naik] dan Bear [pelaku pasar yang memprediksi emas turun] masing-masing memiliki narasi tentang emas saat ini. Inflasi rendah, permintaan lemah, dan penguatan dolar menjadi alasan bagi Bears, sementara kemerosotan ekonomi, yield riil negatif, dan pelonggaran moneter bank sentral menjadi alasan para Bull” kata Hansen, sebagaimana dilansir CNBC International.

Ya, setiap analis memang memiliki pandangannya masing-masing, tetapi sejauh ini harga emas masih menguat merespon lonjakan klaim pengangguran AS.