Equityworld Futures | Lagi, Harga Emas Dunia Sentuh Rekor dalam 6 Tahun!

pt equityworld emas

Equityworld Futures | Harga emas dunia kembali berada di posisi tertinggi dalam 6 tahun seiring dengan sejumlah sentimen yang menopang penguatannya.

Pada perdagangan hari Senin (5/8/2019) pukul 09:00 WIB, harga emas kontrak pengiriman Desember di bursa New York Commodity Exchange (COMEX) menguat 0,12% ke posisi US$ 1.459,2/troy ounce (Rp 656.875/gram).

Adapun harga emas di pasar spot naik 0,66% menjadi US$ 1.449,92/troy ounce (Rp 652.693/gram)

Pada posisi sekarang, harga emas, baik di pasar COMEX maupun spot merupakan yang tertinggi di tahun 2019. Selain itu ini juga merupakan yang tertinggi sejak Mei 2013 atau 6 tahun lalu.

Risiko eskalasi perang dagang Amerika Serikat-China kembali menjadi sentimen utama yang mendongkrak harga emas.

Kamis pekan lalu (1/8/2019) Presiden AS, Donald Trump, mengatakan akan memberi bea impor 10% pada produk asal China senilai US$ 300 miliar. Produk-produk tersebut sebelumnya bukan merupakan objek dari perang dagang.

“Perundingan dagang terus berlanjut, dan selagi berunding AS akan menerapkan tambahan kecil 10% bea masuk untuk impor produk China senilai US$ 300 miliar mulai 1 September. Ini tidak termasuk importasi senilai US$ 250 miliar yang sudah dikenakan bea masuk 25%,” tulis Trump melalui Twitter.

Memang, pengenaan tarif belum berlaku secara efektif. Bahkan seorang sumber yang berhasil dimintai keterangan oleh Wall Street Journal (WSJ) mengatakan bahwa Trump mengambil keputusan eskalasi tarif di tengah penolakan hampir seluruh penasihatnya.

Sumber tersebut mengatakan seluruh penasihat Trump hadir di Oval Office, termasuk penasihat keamanan nasional, John Bolton, penasihat ekonomi, Larry Kudlow, dan pelaksana tugas Kepala Staff Kepresidenan, Mick Mulvaney, dan penasihat perdagangan, Peter Navaro.

Kecuali Navaro, seluruh penasihat Trump menolak keputusan pengenaan tarif baru terhadap produk China.

Akan tetapi ancaman Trump sudah menggaung sampai ke Negeri Tirai Bambu. Mudah ditebak, China meradang.

“Jika AS benar mengeksekusi bea masuk tersebut maka China harus meluncurkan kebijakan balasan yang diperlukan guna melindungi kepentingan-kepentingan kami yang mendasar,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying, dilansir dari Reuters.

Bila sampai benar kejadian (eskalasi perang dagang), analis memperkirakan risiko resesi ekonomi AS akan semakin besar. “Jika dia [Trump] menindaklanjuti ancaman tersebut, maka ancaman resesi akan meningkat,” ujar Mark Zandi, kepala ekonom Moody’s Analytics. Resesi merupakan kondisi di mana pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi alias negatif dalam dua kuartal berturut-turut.

Dalam kondisi yang masih tak pasti seperti ini, pelaku pasar cenderung lebih memilih bermain aman. Emas yang menjadi salah satu instrumen pelindung nilai (hedging) pun gencar diburu investor.

Di lain pihak, eskalasi perang dagang dapat mendorong Bank Sentral AS, The Federal Reserves (The Fed) untuk lebih agresif dalam menurunkan suku bunga acuan (Federal Funds Rate/FFR).

Sebelumnya, pelaku pasar sudah dibuat kecewa dan terkejut oleh sikap yang diambil oleh The Fed. Pasalnya ada hari Rabu (31/7/2019) Gubernur The Fed, Jerome Powell, mengumumkan penurunan target suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi ke kisaran 2-2,25% sambil berpidato dengan nada-nada yang tidak lagi kalem (dovish).

“Biar saya perjelas: yang saya maksud adalah itu (pemangkasan tingkat suku bunga acuan) bukanlah merupakan awal dari pemangkasan tingkat suku bunga acuan yang agresif,” kata Powell, dilansir dari CNBC International.

“Kami tak melihat arahnya ke sana (era panjang pemangkasan tingkat suku bunga acuan). Anda akan melakukannya jika Anda melihat pelemahan ekonomi yang signifikan dan jika Anda berpikir bahwa federal funds rate perlu dipangkas secara signifikan. Itu bukanlah skenario yang kami lihat.”

Kini pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan yang akan bisa diambil oleh The Fed ke depan. Boleh jadi Powell dan kawan-kawan jadi lebih berani untuk mengambil langkah tegas untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Mengutip CME Fedwatch pada akhir perdagangan Jumat (2/8/2019) kemungkinan The Fed menurunkan suku bunga ke kisaran 1,5-1,75% (turun 50 basis poin dari posisi sekarang) hingga akhir tahun 2019 mencapai 50,2% atau melesat dari posisi sehari sebelumnya yang hanya 36,9%.

Bila suku bunga acuan The Fed diturunkan semakin dalam, maka likuiditas dolar AS akan membanjiri pasar. Nilai tukar greenback pun kemungkinan akan semakin lesu.

Risiko koreksi nilai aset yang berbasis dolar pun meningkat, dan mendorong investor untuk lebih banyak mengalihkan kekayaan ke dalam bentuk aset safe haven. Salah satunya adalah emas.

Selain itu dolar juga sudah keburu melemah hari ini. Pada pukul 09:00 WIB, nilai Dollar Index (DXY) yang merupakan cerminan posisi dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia melemah 0,18% ke level 97,89 dan merupakan yang terlemah sejak 25 Juli 2019.

Pelemahan dolar akan membuat harga emas dunia menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Pasalnya, hingga saat ini emas di pasar global masih ditransaksikan dalam dolar AS. (Equityworld Futures)