Equityworld Futures | Menanti Data Inflasi Dunia dan Realisasi AS-China

pt equityworld emas

Equityworld Futures | Sentimen positif dari turunnya tensi AS-China turut ditambah oleh nada dovish dari Gubernur The Fed Jerome Powell terhadap arah kebijakan moneternya, terutama menjelang Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 17-18 September, pekan depan, yang akan menjadi penentu jadi-tidaknya suku bunga acuan mereka akan dipangkas.

Saat ini, CME Fedwatch yang mencerminkan ekspektasi pelaku pasar global terhadap potensi penurunan suku bunga The Fed Fund Rate 25 bps masih berada di angka 91,2%. Sebagian kecil yaitu 8,8% masih memprediksi suku bunga acuan AS akan bertahan di level yang sama seperti sekarang yaitu 2%-2,25%.

Pernyataan Powell dari Zurich yang cenderung copy paste atau bahkan template dengan kata-kata akan melanjutkan langkah-langkah yang “as appropriate” nyatanya mampu menenangkan pasar yang sudah menguat sepanjang pekan lalu dan membuat minat mereka terhadap aset berisiko juga membesar.

Data tenaga kerja AS pada Jumat pagi waktu setempat yang beragam sempat membingungkan pasar saham, tetapi sentimen yang mengambang sefera dipertegas pernyataan Powell bahwa bank sentral masih sejalan dengan pendekatan yang diperlukan.

Data tenaga kerja menunjukkan tingkat pengangguran naik menjadi 3,7%, di atas prediksi 3,6% dan serupa dengan bulan sebelumnya 3,7%. Di sisi lain, data tenaga kerja pemerintahan naik kencang menjadi 34.000 dari prediksi 6.000 dan dari prediksi 34.300 angkatan kerja pada bulan sebelumnya.

Sepanjang pekan lalu, penguatan pasar SUN dibarengi oleh kedatangan dana asing Rp 1,61 triliun, di mana jumlah kepemilikan investor asing naik menjadi Rp 1.011 triliun per 4 September dari Rp 1.009 triliun pada pekan sebelumnya. Arus dana ke pasar SUN inilah yang kemungkinan sudah mendongrak nilai tukar rupiah pada periode yang sama.

Seiring dengan semakin kondusifnya pasar keuangan pekan lalu, harga emas di pasar spot turun menjadi US$ 1.519 per troy ounce (oz) pada 30 Agustus menjadi US$ 1.506/oz pada 6 September.

Emas memang menjadi instrumen yang dianggap ‘pelarian’ ketika kontraksi sedang terjadi di pasar keuangan global, sehingga jika pasar saham terkoreksi biasanya akan dibarengi oleh penguatan harga emas.

Koreksi di pasar saham ternyata benar disertai aksi jual bersih investor asing di pasar reguler Rp 1,48 triliun. Pasar reguler lebih mencerminkan transaksi organik dibandingkan dengan data seluruh jenis pasar (ditambah pasar negosiasi dan pasar tunai) yang turut memasukkan transaksi besar (block sale). (Equityworld Futures)