Equityworld Futures – Pengiriman paket selama lebaran melalui PT Pos Indonesia (Persero) meningkat sekitar 30-40 persen dibandingkan dengan hari normal.

“Cukup signifikan kenaikannya 30-40 persen. Saya belum punya angka pastinya tetapi kalau lihat di semua hub-hub besar, ada dua kali lipatnya. Normalnya kalau tidak lebaran kira-kira ratusan ribu paket,” kata Direktur Utama PT Pos Indonesia, Gilarsi Wahyu Setijono pada halal bihalal di Kantor Kementerian BUMN Jakarta, Senin (11/7).

Gilarsi mengatakan semua jenis paket mengalami peningkatan signifikan, terutama pengiriman parsel yang beratnya mencapai rata-rata 50 kilogram per paket. Ada pun peningkatan tersebut terjadi untuk semua daerah tujuan, tetapi paling dominan di Pulau Jawa.

Menurut dia, lonjakan pengiriman paket masih akan terjadi sampai dua minggu mendatang. Ia mengaku, PT Pos Indonesia tidak mengalami hambatan berarti dalam menghadapi penumpukan pengiriman paket.

“Kita belajar dari tahun kemarin supaya tidak ada bottleneck. Saat menjelang tahun baru, ada penumpukan tertunda yang panjang jadi kita sudah tahu dan genjot (sebelum lebaran),” ujar Gilarsi.

Gilarsi mengatakan, perseroan sejauh ini masih bertahan untuk tidak menaikkan harga pengiriman meski secara finansial terbebani. Menurutnya, tarif dasar harga layanan universal yang ditetapkan Kementerian BUMN sejak 2009 membuat perusahaan harus melakukan banyak subsidi.

Ia mengakui kalau PT Pos Indonesia mulai mempertimbangkan untuk menaikkan tarif harga dasar pengiriman paket sebesar 30 persen. Namun, angka tersebut masih harus dikaji ulang agar pangsa pasar masyarakat pengguna jasa pengiriman barang tidak berkurang.

“Harganya sudah tidak masuk akal yang dipakai 2009 sampai sekarang. Kita subsidi tapi tidak termasuk yang dibayar pemerintah melalui PSO (Public Service Obligation),” kata Gilarsi. Equityworld Futures