Equityworld Futures | Rencana Kenaikan Bunga The Fed Kembali Tekan Rupiah

pt equityworld

Equityworld Futures | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak melemah pada perdagangan di awal pekan ini.

Mengutip Bloomberg, Senin )16/72018),rupiah dibuka di angka 14.393 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.378 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.387 per dolar AS hingga 14.416 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 6,07 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakartaa Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.396 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan pada Jumat lalu yang ada di angka 14.358 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak melemah pada perdagangan di awal pekan ini.

Mengutip Bloomberg, Senin )16/72018),rupiah dibuka di angka 14.393 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.378 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.387 per dolar AS hingga 14.416 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 6,07 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakartaa Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.396 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan pada Jumat lalu yang ada di angka 14.358 per dolar AS.

“Pelemahan di awal seiring imbas masih terapresiasinya laju dolar AS dan masih melemahnya Euro,” kata Analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada dikutip dari Antara.

Pergerakan rupiah akhir pekan lalu sempat mengalami pelemahan sebelum akhirnya mampu kembali bergerak positif.

Rupiah memang sempat melemah di awal karena melemahnya Euro dan juga kenaikan inflasi yang memicu anggapan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Di sisi lain, meski Bank Indonesia meminta perbankan untuk menahan kenaikan bunga kreditnya, namun Bank Indonesia juga memproyeksikan adanya surplus neraca perdagangan di bulan Juni sehingga cukup direspons positif.

Reza menuturkan, pergerakan rupiah yang mulai terapresiasi diharapkan dapat kembali terjadi seiring masih adanya sentimen positif dari dalam negeri dan dapat mengimbangi sentimen global.

“Namun demikian, masih terdepresiasinya sejumlah mata uang lainnya terhadap dolar AS patut diwaspadai imbasnya terhadap Rupiah,” kata Reza.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan nilai mata uang negara berkembang dibandingkan dolar Amerika Serikat (AS) tengah menunjukkan tren depresiasi, salah satunya rupiah. Ini tidak terlepas dari terus membaiknya ekonomi AS.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan, dengan berbagai hal yang terjadi di dunia, khususnya di AS, menjadikan rupiah telah memasuki di titik keseimbangan yang baru (new normal). Saat ini rupiah bertengger di atas level 14.000 per dolar AS. (Equityworld Futures)