Equityworld Futures | Setelah Menguat Sepekan, Bisakah Harga Emas Cetak Rekor Lagi?

pt equityworld emas

Equityworld Futures | Harga emas dunia bergerak naik sepanjang pekan lalu. Tingginya risiko ekonomi global membuat investor cemas dan memilih bermain aman dengan mengoleksi aset investasi safe haven seperti emas.

Sepanjang pekan lalu (30 September-4 Oktober), harga emas dunia di pasar spot naik 0,52% secara point-to-point. Harga si emas hitam ini kembali ke kisaran US$ 1.500/troy ons. Kendati secara harian, harga emas pada Jumat ditutup turun tipis di level US$ 1.504,35/troy ons dari harga Kamis US$ 1.504,75/troy ons, mengacu data Refinitiv.

Pada awal-awal pekan, harga emas sempat tertekan karena euforia investor terhadap hubungan AS-China. Pada 2 pekan lalu, kedua negara sepakat untuk melanjutkan perundingan tingkat menteri di Washington pada 10-11 Oktober pekan ini.

Damai dagang AS-China adalah sesuatu yang sangat didambakan oleh pelaku pasar, dan seluruh pelaku ekonomi. Pasalnya perang dagang yang terjadi selama lebih dari setahun terakhir membuat rantai pasok global rusak dan pertumbuhan ekonomi melambat.

Namun memasuki pertengahan pekan, situasi mulai berbalik mencekam. Adalah data ekonomi AS yang membuat pelaku pasar semakin khawatir terhadap ancaman resesi di Negeri Paman Sam.

Pada September, angka Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur AS versi Institute for Supply Management (ISM) adalah 47,8. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 49,1.

Angka PMI di bawah 50 menunjukkan industriawan tidak melakukan ekspansi. Selain itu, skor 47,8 adalah yang terendah sejak Juni 2009.

Kemudian ISM melaporkan bahwa PMI jasa AS pada September berada di 52,6. Masih di atas 50, tetapi angka itu adalah yang terendah sejak Agustus 2016.

Sektor jasa mewakili lebih dari dua pertiga ekonomi AS. Jika sektor ini melambat, maka perekonomian AS juga terancam kehilangan lajunya bahkan bukan tidak mungkin sampai terkontraksi alias tumbuh negatif. Ketika ekonomi tumbuh negatif selama dua kuartal beruntun pada tahun yang sama, itu namanya resesi.

Lalu ada pula sentimen negatif berupa ancaman perang dagang AS vs Eropa. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memenangkan gugatan AS yang menyebut Uni Eropa memberikan subsidi kepada Airbus sehingga menimbulkan persaingan tidak sehat dengan perusahaan pembuat pesawat lainnya seperti Boeing.

Sidang panel WTO menyatakan AS menderita kerugian sampai US$ 7,5 miliar per tahun. Keputusan WTO ini menjadi pembenaran bagi rencana AS untuk menerapkan bea masuk terhadap importasi produk-produk dari Eropa. Washington mengusulkan pengenaan bea masuk bagi importasi hingga US$ 11 miliar, berlaku mulai 18 Oktober.

Perang dagang AS-China belum benar-benar selesai, sekarang ada lagi perang dagang AS-Uni Eropa. Investor melihat prospek perekonomian global tetap suram. Akibatnya, aset-aset berisiko ditinggalkan dan investor bermain aman dengan memburu emas. (Equityworld Futures)