PT Equity World | Dua Hari Bertahan, Keperkasaan Emas Akhirnya Rontok Juga

pt equityworld emas

PT Equity World | Harga emas global akhirnya melemah memasuki perdagangan sesi Amerika Serikat (AS) Rabu (19/12/2019) setelah mencatat kenaikan tipis-tipis dua hari beruntun. Kenaikan beruntun tersebut terbilang di luar kebiasaan emas yang merupakan aset aman (safe haven).

Kesepakatan dagang fase I AS-China seharusnya membuat harga emas melemah, tetapi nyatanya dalam dua hari terakhir harga emas justru menguat 0,03% dan 0,01%. Baru pada hari ini keperkasaan emas akhirnya rontok, pada pukul 21:05 WIB, emas diperdagangkan di level US$ 1.472,37/troy ons, melemah 0,26% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Perang dagang AS-China sudah memasuki babak baru dengan kesepakatan dagang fase I pada Jumat (13/12/2019) lalu. Di awal pekan ini, Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, dan Penasihat Ekonomi Gedung Putih Lawrence Kudlow kompak menyatakan jika kesepakatan fase I sudah sepenuhnya selesai, sebagaimana diwartakan Reuters.

Lighthizer dalam acara Face The Nation yang ditayangkan di CBS mengungkapkan bahwa naskah kesepakatan damai dagang AS-China tinggal menunggu pemeriksaan yang sifatnya rutin saja. Tidak ada perubahan yang mendasar karena semua sudah disepakati.

Sementara Kudlow berharap Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping dari China akan menandatangani perjanjian tersebut pada awal Januari. Selepas itu, AS-China akan memulai negosiasi damai dagang fase II. Meski demikian, kabar bagus tersebut belum sanggup menjungkalkan harga emas.

Dalam kesepakatan dagang fase I, tambahan bea masuk produk China yang sejatinya berlaku pada 15 Desember dibatalkan, dan AS juga menurunkan sebagian bea masuk importasi produk senilai US$ 120 miliar dari sebelumnya 15% menjadi 7,5%.

Sebagai gantinya, China dikatakan berkomitmen untuk membeli barang dan jasa AS senilai US$ 200 miliar dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Negeri Tiongkok juga akan membeli produk pertanian AS senilai US$ 32 miliar. Selain itu, China juga akan melakukan pembelian produk pertanian senilai US$ 5 miliar di luar angka-angka tersebut.

Patut diingat, AS masih menerapkan bea masuk yang tinggi, yakni 25% terhadap produk China senilai US$ 250 miliar, begitu juga dengan China yang belum mencabut atau mengurangi bea masuk importasi produk dari AS. Sehingga pada dasarnya perang dagang masih berlangsung, hanya tidak lagi tereskalasi.

Ini berarti pertumbuhan ekonomi global belum tentu juga akan mampu bangkit meski kesepakatan dagang fase I sudah ditandatangani. Pun jika akhirnya perekonomian global membaik, dikatakan tetap akan mendapatkan keuntungan.

Pasalnya, ketika pertumbuhan ekonomi global membaik mata uang utama serta emerging market diprediksi akan menguat melawan dolar AS. Hal itu diungkapan oleh analis Goldman Sachs, Mikhail Sprogis, yang memprediksi harga emas akan ke US$ 1.600/troy ons pada tahun depan.

Ketika dolar AS melemah, emas yang dibanderol mata uang Paman Sam tersebut berpotensi naik permintaannya. Hal tersebut yang membuat harga emas masih mampu bertahan dan tidak mengalami kemerosotan tajam pasca pengumuman kesepakatan dagang fase I. (PT Equity World)