PT Equity World | Harga emas anjlok lebih dari dua persen pada akhir perdagangan Senin (22/11/2021) waktu setempat (Selasa pagi WIB).

Logam mulia ini tertekan dollar AS yang menguat setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell dinominasikan untuk masa jabatan kedua, mendorong ekspektasi bahwa bank sentral dapat tetap berada di jalur pengurangan dukungan ekonomi.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, melorot 45,3 dollar AS atau 2,45 persen ditutup pada 1.806,30 dollar AS per ounce. Sementara emas di pasar spot juga jatuh 2,1 persen, menjadi 1.805,30 dollar AS per ounce pada pukul 19.00 GMT, terendah sejak 5 November.

“Emas dijual karena anggapan bahwa mungkin The Fed akan mempertahankan jalur kebijakan moneternya saat ini sebagai lawan dari nominasi Lael Brainard,” kata Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals.

Dia menyebutkan, Brainard akan dianggap membuka jalan untuk lebih kebijakan dovish.

“Ini hanya reaksi spontan dari pasar emas,” kata Wyckoff, dengan dolar menguat ke level tertinggi sejak Juli tahun lalu.

Pencalonan kembali Powell juga menyebabkan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS semakin memperlemah emas, membuat emas mengalami penurunan harian tertajam dalam lebih dari tiga bulan.

Dollar AS yang lebih kuat membuat emas menjadi mahal bagi pembeli luar negeri, sementara suku bunga yang lebih tinggi diterjemahkan menjadi peningkatan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Pasar uang sekarang memperkirakan Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juni mendatang dibandingkan sebelumnya pada Juli.

“Pergerakan yang lebih tinggi dengan imbal hasil riil telah mempercepat beberapa pelemahan emas, tetapi terlalu dini bagi investor yang berpikir ini adalah awal dari tren yang berkelanjutan,” kata Edward Moya, analis pasar senior di broker OANDA.