PT Equity World | Wall Street Berisiko Diterpa Aksi Jual, Emas Bersiap Melesat

PT Equityworld

PT Equity World | Harga emas dunia menguat pada perdagangan Kamis (27/2/2020) akibat wabah virus corona yang penyebarannya semakin cepat di luar China membuat sentimen pelaku pasar memburuk, aset-aset berisiko dilego, dan masuk ke aset aman (safe haven) seperti emas.

Pada pukul 15:15 WIB, emas diperdagangkan di level US$ 1.647.3/troy ons, menguat 0,47% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Lonjakan kasus virus corona atau Covid-19 terjadi di Korea Selatan (Korsel), Italia dan Iran. Berdasarkan data dari satelit pemetaan ArcGis dari John Hopkins CSSE, jumlah kasus Covid-19 di Korsel kini mencapai 1.595 orang, dengan 12 orang meninggal dunia. Korsel kini menjadi negara dengan jumlah kasus virus corona terbanyak kedua setelah China yang menjadi pusat wabah tersebut.

Korban meninggal di Italia juga sebanyak 12 orang, dengan 453 orang yang terjangkit, sementara Iran melaporkan 19 orang meninggal dan menjangkiti 139 orang.

Di China yang merupakan pusat wabah corona, jumlah korban meninggal lebih dari sebanyak 2.700 orang, dan telah menjangkiti lebih dari 78.000 orang. Sementara Secara global virus corona telah menewaskan 2.799 orang, dan menjangkiti lebih dari 82.000 orang. Kasus Covid-19 kini dilaporkan terjadi di 45 negara.

Sebagian bursa saham utama Asia anjlok lagi pada hari ini, indeks Nikkei Jepang misalnya yang merosot lebih dari 2%. Bursa Eropa juga masuk ke zona merah di awal perdagangan, dan bursa AS (Wall Street) berisiko mengalami aksi jual, yang tercermin dari pergerakan indeks futures.

Indeks Dow Jones Futures sempat anjlok nyaris 400 poin, sebelum membaik menjadi 147 poin atau turun 0,55% pada pukul 15:15 WIB, berdasarkan data CNBC International. Indeks S&P 500 Futures dan Nasdaq Futures masing-masing merosot 0,5% dan 0,48%.

Anjloknya indeks futures atau berjangka tersebut menjadi indikasi bursa Wall Street akan kembali mengalami aksi jual pada hari ini.

Kabar penyebaran virus corona di AS yang tidak diketahui bagaimana proses terjangkitnya memicu kecemasan di pasar yang berdampak pada aksi jual di indeks futures siang ini.

Pusat Pencegahan dan Pengendali Penyakit (Center of Disease and Prevention/CDC) AS mengkonformasi adanya pasien positif virus corona tetapi belum diketahui bagaimana bisa terjangkit. CDC memperingatkan kemungkinan terjadinya “penyebaran di masyarakat” melihat kasus terbaru tersebut.

Sejak awal pekan ini, Wall Street terus diterpa aksi jual, ketiga indeks utama langsung jeblok hanya dalam 3 hari perdagangan. Indeks Dow Jones merosot 7,02%, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing anjlok 6,63% dan 6,22% hingga perdagangan Rabu kemarin.

Berlanjutnya aksi jual di Wall Street berpeluang mendorong harga emas naik lebih tinggi lagi.

Melihat grafik harian, emas yang disimbolkan XAU/USD bergerak di atas rerata pergerakan (Moving Average/MA) MA 8 hari (garis biru), MA 21 hari (garis merah) dan MA 125 hari (garis hijau).

Indikator rerata pergerakan konvergen dan divergen (MACD) bergerak naik di wilayah positif. Sementara histogramnya sudah masuk ke wilayah positif yang cukup tinggi. Indikator ini menunjukkan emas mendapatkan momentum penguatan.

Pada time frame 1 jam, emas bergerak di bawah MA 8 tetapi di atas MA 21 dan MA 125. Indikator Stochastic bergerak turun dari wilayah jenuh beli (overbought).

Ruang berlanjutnya penguatan emas pada hari terbuka selama mampu bertahan di atas US$ 1.645/troy ons. Resisten (tahanan atas) terdekat di US$ 1.650/troy ons. Jika mampu ditembus dengan meyakinkan, emas berpotensi menguat ke US$ 1.655 sampai US$ 1.663/troy ons. Penembusan di atas level tersebut akan membuka peluang ke US$ 1.669/troy ons.

Sementara jika menembus ke bawah US$ 1.645/troy ons, berisiko akan membawa harga turun ke US$ 1.641/troy ons. Support selanjutnya berada di level US$ 1.635 dan US$ 1.626/troy ons. (PT Equity World)