Equityworld Futures | Hai Milenial! Ini Lho Tips Investasi Emas Digital Biar Cuan

pt equityworld emas

Equityworld Futures | Investasi bagi sebagian orang mungkin tidak semudah membalikkan telapak tangan. Meski begitu, ada banyak jalan untuk bisa berinvestasi.

Salah satunya adalah investasi emas digital, yang belakangan marak dengan segala kemudahannya. Perencana keuangan dari finansialku.com Widya Yuliarti mengatakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan bagi yang ingin berinvestasi emas digital.

“Kalau tidak cocok ke pasar saham, boleh banget ke emas. Karena kan kalau saham ada psikologinya. Kalau tidak kuat bisa ke emas. Tapi kan tergantung tujuan keuangan. Balik lagi kebutuhan setiap orang,” ujarnya dalam program InvesTime CNBC Indonesia seperti dikutip, Rabu (25/12/2019).

Namun, ada catatan penting dari Widya, khususnya bagi tipe orang yang sulit menyisihkan pendapatan untuk investasi. Biasakan, menyisihkan pundi-pundi ini setelah mendapatkan penghasilan, bukan sebaliknya.

“Jadi tiap kita dapat pendapatan ini langsung alokasikan untuk investasi. Karena banyak orang biasanya bukan dialokasikan, tapi disisihkan akhir bulan,” tuturnya.

Bagi orang yang bertipe konsumtif setiap bulan, berinvestasi emas digital dinilai bisa menjadi sarana belajar lebih disiplin. Sebab, caranya tak seperti menyimpan uang di rekening bank, yang bisa tarik tunai kapan saja.

“Enaknya emas, buat yang konsumtif, cewek biasanya, enaknya nabungnya jauh lebih disiplin, nggak seperti disimpan rekening. Lebih disiplin, lebih efektif,” katanya lagi.

Namun, semua tujuan investasi tersebut kembali lagi ke tujuan awal, apa hasil akhir dari investasi. Menurut Widya, setiap investasi yang dilakukan harus berdasarkan target dan kegunaan di masa mendatang.

“Jangan lupa kalau lupa kalau sudah dua hal ini (target dan tujuan) kemudian di review. Investasinya apakah efektif berjalan atau tidak. Misal tak efektif mencari investasi yang efektif. Investasi harus bertujuan sesuai rencana investasi kita,” ujarnya.

Harga Emas dan Nilai Rupiah Terus Menguat

Harga emas menguat ke level tertinggi dalam delapan pekan terakhir. Salah satu pemicunya adalah data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menurun. Data pesanan baru barang modal AS hanya bergerak tipis pada bulan November. Bahkan, pengiriman barang modal ini cenderung turun.

Saat ini harga emas spot berada di US$ 1.490,82 per ons troi, naik 0,34% dari US$ 1.485,79 per ons troi pada penutupan perdagangan kemarin. Harga emas menyentuh level tertinggi sejak 31 Oktober 2019.

Nah, kondisi tersebut tentu menunjukkan potensi penurunan investasi bisnis yang bisa menekan laju pertumbuhan ekonomi kuartal keempat ini. ”Data ekonomi AS yang lebih lemah bermunculan sehingga ada kekhawatiran bahwa tarif impor yang berlaku saat ini akan tetap memberatkan ekonomi AS tahun depan,” terang Market strategist AxiTrader Stephen Innes, kemarin (25/12).

Kanada pun turut mengungkit harga emas dengan angka ekonomi yang kontraksi 0,1% pada bulan Oktober. Ini adalah penurunan bulanan pertama sejak Februari 2019. Penurunan terjadi sebagian karena mogok kerja sektor otomotif yang menghantam sektor manufaktur. ”Ya kita belum 100% merampungkan kesepakatan fase satu karena belum ditandatangani. Lalu kita akan bergerak ke fase dua yang belum jelas soal apa,” imbuh Innes.

Harga emas mencatat kenaikan terbesar sejak 2010. Sepanjang tahun ini, harga logam mulia tersebut sudah naik 16%, terutama karena kenaikan tarif saat perang dagang AS-China memanas.

Kondisi harga emas ternyata diimbangi dengan pergerakan rupiah terhadap dollar AS diprediksi bakal melanjutkan penguatan pada perdagangan pada Kamis (26/12). Minimnya aktivitas di pasar keuangan global dinilai mampu menjadi sentimen positif bagi mata uang Garuda.

Mengutip dari data Bloomberg, pada perdagangan Senin (23/12) pukul 16.15 WIB, rupiah tercatat melemah tipis 0,01% ke level Rp 13.979 per dollar AS dari penutupan sebelumnya. Sebaliknya, kurs tengah Bank Indonesia (BI) atau JISDOR, justru menguat 15 poin menjadi Rp 13.978 per dollar AS.

Analis Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf menjelaskan dari sentimen domestik, belum ada sentimen kuat yang bisa menjadi penggerak mata uang garuda hingga akhir tahun. Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) bakal merilis data klaim pengangguran hari ini (26/12).

“Jika data tersebut mengalami penurunan, itu juga nggak akan berdampak besar bagi pergerakan rupiah. Itu karena, sekarang sudah masuk libur Natal dan Tahun Baru,” ungkap Deddy.

Selain itu, pasar menyambut positif rencana AS dan Cina untuk melakukan kesepakatan dagang di Januari 2020. Dengan berbagai sentimen tersebut, disertai berkurangnya aktivitas di pasar keuangan Deddy meyakini rupiah bakal melanjutkan penguatannya bahkan hingga awal 2020.

Di samping itu, pemakzulan yang dilakukan pada Presiden AS Donald Trump membuat pasar cenderung mulai mencermati dan berhati-hati. Di sisi lain, kinerja tiga indeks Wall Street sempat menguat tinggi, sekaligus mencerminkan bahwa di awal Januari 2020 pasar cenderung mengincar aset-aset berisiko.

”Kondisi ini akan berdampak bagi emerging market (EM) termasuk Indonesia. Kalau dilihat potensinya, rupiah masih akan terjaga di bawah Rp14.200 per dollar AS hingga awal tahun depan,” ujarnya.

Nah, untuk perdagangan Kamis (26/12) Deddy memperkirakan pergerakan rupiah terhadap dollar AS masih akan melanjutkan menguat. Adapun rentang pergerakan besok berada di kisaran Rp13.960 per dollar AS hingga Rp 14.000 per dollar AS. (Equityworld Futures)