PT Equityworld | Harga Emas Hari Ini, 15 Juni 2020

PT Equityworld

PT Equityworld | Logam mulia yang kerap menjadi aset primadona di saat banyak ketidakpastian pasar kali ini tampak kehabisan tenaga untuk memanfaatkan momentum. Penguatan emas berangsur reda memasuki satu bulan terakhir kuartal II/2020.

Berdasarkan data Bloomberg, sejak awal Juni harga emas global telah terkoreksi 0,82 persen. Bahkan, emas sempat kembali menembus ke bawah level US$1.700 per troy ounce pada pekan lalu. Emas menyentuh level US$1.683 per troy ounce, level yang terakhir kali dihinggapi pada awal April 2020.

Adapun, pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, harga emas untuk kontrak Agustus 2020 di bursa Comex parkir di level US$1.737,3 per troy ounce, terkoreksi 0,14 persen atau 2,5 poin.

Sementara itu, harga emas di pasar spot berada di zona hijau, yaitu parkir di level US$1.730,75 per troy ounce naik 0,18 persen atau 3,05 poin.

Di sisi lain, melemahnya laju pergerakan emas juga terjadi pada emas batangan buatan dalam negeri, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau emas Antam. Untuk ukuran 1 gram, harga telah turun 2,1 persen sejak awal Juni.

Pada pekan lalu, emas sempat anjlok hingga ke level Rp875.000 per gram, level terendah emas Antam sejak akhir Maret 2020. Pertahanan emas fisik itu runtuh dan kembali diperdagangkan di kisaran level Rp800.000 per gram, setelah bergerak di atas Rp900.000 per gram selama dua bulan terakhir.

Analis Bloomberg Intelligence Eily Ong mengatakan bahwa harga emas mungkin akan menghadapi tantangan pada paruh kedua tahun ini yang akan semakin menghambat laju emas untuk menguat tajam di tengah sentimen pandemi Covid-19.

“Hal itu seiring dengan adanya ancaman melemahnya minat China dan India di tengah tekanan inflasi ringan dan penguatan greenback. Fokus pasar yang lebih tertuju pada pemulihan pasar ekuitas saat ini juga akan mengurangi minat terhadap emas,” ujar Ong seperti dikutip dari publikasi risetnya, Minggu (14/6/2020).

Untuk diketahui, China dan India adalah pasar yang penting bagi emas karena dua negara itu adalah konsumen logam mulia terbesar di dunia, baik untuk sektor perhiasan maupun sektor investasi.

Ekonomi China yang melambat akibat pandemi Covid -19 menjadi tantangan utama permintaan emas. Konsumsi logam kuning dari Negeri Panda itu akan menurun tajam, lebih dari 7 persen pada tahun ini.

Apalagi, langkah Bank Sentral China untuk menambah cadangan emas sebagai upaya mengurangi ketergantungannya terhadap dolar AS sejak 2018 sudah mulai mereda pada awal tahun ini.

Di India yang menyumbang hampir 23 persen konsumsi emas global pada 2019, juga menunjukkan pelemahan terhadap minat membeli emas. Kemarau yang berkepanjangan telah memperburuk pertumbuhan ekonomi Negeri Taj Mahal itu di tengah sentimen pandemi Covid-19.

Hasil panen yang buruk akan membuat masyarakat India lebih memilih membeli bahan pokok ketimbang menambah aset investasi aman. Apalagi inflasi dan harga emas fisik yang sudah terlalu mahal saat ini juga menekan pembelian emas.

Selain itu, Eily Ong juga mengatakan bahwa permintaan emas mungkin tergelincir karena meningkatnya kepercayaan diri investor terhadap pemulihan ekonomi seiring dengan melonggarnya kebijakan lockdown di beberapa negara.

Hal itu dapat meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko termasuk saham, terutama jika pendapatan perusahaan naik sehingga sentimen itu dapat menurunkan permintaan emas lebih lanjut.