PT Equityworld | Harga Emas di Bawah US$ 1.500/Oz, Bisakah ke US$ 2.000/Oz?

pt equityworld emas

PT Equityworld | Harga emas akhirnya harus menerima kenyataan bergerak di bawah US$ 1.500/troy ounce (Oz). Padahal sempat diprediksi harga emas bisa menyentuh level US$ 2.000/troy ounce.

Hingga tadi malam, sempat berada pada level US$ 1.494/troy ounce dan bergerak naik ke US$ 1.501,15/troy ounce. Pergerakan harga emas yang mulai terbatas tersebut disebabkan ekspektasi terhadap gejolak ekonomi dunia yang akan reda.

Hal ini tercermin dari penguatan bursa saham secara global, membuat harga emas tertekan. Namun bukan berarti emas sepenuhnya ditinggalkan, penguatan tajam dalam waktu singkat tentunya memicu koreksi yang cukup besar juga, hal itu sudah biasa terjadi di aset finansial.

Persepsi investor yang membaik membuat minat atau selera terhadap risiko (risk appetite) meningkat. Kala risk appetite meningkat aset aman (safe haven) seperti emas menjadi kurang menarik, investor lebih tertarik masuk ke aset berisiko yang memiliki imbal hasil tinggi.

Meningkatnya risk appetite investor tidak lepas dari ekspektasi digelontorkannya stimulus moneter dari berbagai negara untuk memacu laju perekonomian.

Secara teknikal harga emas sudah mencapai level US$ 1490/troy ons, sesuai dengan target penurunan pada analisis teknikal Senin kemarin. Emas kini bergerak di kisaran level tersebut.

Pada grafik harian, emas yang disimbolkan XAU/USD bergerak di bawah rerata pergerakan (Moving Average/MA) MA 8 hari (garis biru) dan MA 21 hari (garis merah), tetapi masih di atas MA 125 hari (garis hijau).

Indikator rerata pergerakan konvergen divergen (MACD) di wilayah positif tetapi bergerak turun, histogram sudah di wilayah negatif. Emas terlihat mulai kekurangan momentum untuk menguat untuk jangka menengah.

Pada time frame 1 jam, emas bergerak di kisaran MA 8 dan MA 21, serta di bawah MA 125. Indikator stochastic berada di wilayah jenuh jual (oversold), yang membuka peluang rebound emas.

Jika kembali ke atas US$ 1.490 dan bergerak konsisten di atas level tersebut, emas berpotensi naik menuju US$ 1.500/troy ons.

Sementara jika tertahan di bawah US$ 1.490/troy ons, emas berpeluang besar turun ke area US$ 1.484 sampai US$ 1.480/troy ons. Peluang turun lebih dalam ke area US$ 1.476 menjadi terbuka jika logam mulia menembus ke bawah US$ 1.480/troy ons.

Pada Agustus lalu David Roche, Presiden dan ahli strategi global di Independent Strategy yang berbasis di London pada Senin (8/7/2019) mengatakan harga emas diperkirakan mencapai US$ 2.000 per troy ounce pada akhir tahun ini.

Harga emas telah berada dalam tren naik di tengah kabar kemungkinan penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) dan meningkatnya kekhawatiran geopolitik. Kondisi ini menurut Roche justru membebani pasar saham sehingga pasar melirik investasi emas sebagai save haven.

“Saya benar-benar percaya pasar keuangan sekarang siap hancur seperti tumpukan pasir,” katanya dalam acara ‘Squawk Box’ CNBC.

Namun kabar positif mulai datang, dimulai dari China, Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBoC) kembali menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 50 bps untuk semua bank. Kebijakan ini diperkirakan mampu memompa likuiditas sebanyak CNY 900 miliar dan menurunkan suku bunga kredit perbankan.

Kemudian dari Jepang, pertumbuhan ekonomi Jepang kuartal II-2019 direvisi turun yang memperkuat spekulasi Bank of Japan (BoJ) akan menggelontorkan stimulus moneter di bulan ini. Jangan lupakan European Central Bank (ECB) dan tentunya bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang juga diprediksi akan memangkas suku bunga acuan.

Di sisi lain, gelontoran stimulus dari banyak bank sentral tentunya menambah likuiditas di pasar global, yang dapat menaikkan inflasi. Emas merupakan aset lindung nilai terhadap inflasi, jika inflasi meningkat maka daya tarik emas kembali muncul.

Hal tersebut membuat emas belum ditinggalkan sepenuhnya oleh pelaku pasar. Untuk saat ini para “pencinta” transaksi emas sedang menanti pengumuman kebijakan moneter mulai dari ECB Kamis ini, kemudian The Fed dan BoJ Kamis (19/10/19) pekan depan. (PT Equityworld)