PT Equityworld | Harga Emas Diramal Tembus US$ 2.000/Troy Ons, Kapan?

PT Equityworld

PT Equityworld | Bank investasi global Goldman Sachs pada Rabu kemarin (10/6/2020) memberikan outlook bullish untuk logam mulia emas. Goldman Sachs menilai harga emas bisa tembus di atas US$ 2.000/troy ons.

Sementara harga emas dunia di pasar spot pada penutupan perdagangan hari Rabu kemarin (Kamis pagi waktu Indonesia) kembali menguat melanjutkan reli sebelumnya yang naik sebesar US$ 21,92 atau 1,28% menjadi US$ 1.736,24/troy ons, melansir dari Refinitiv.

Beberapa faktor yang mendorong harga emas lebih tinggi menurut Goldman Sachs antara lain, kebijakan moneter dan fiskal yang super-ekspansif dibarengi dengan kuatnya sentimen konsumen. Hal ini akan mendorong laju inflasi yang lebih kencang.

Sementara di tahun ini, apresiasi harga emas juga seiring dengan meningkatnya kekhawatiran perang dagang antara AS-China. Selain itu, lonjakan baru terinfeksi virus corona lagi-lagi memberikan tekanan bagi aset-aset berisiko.

Hingga saat ini virus corona telah menginfeksi lebih dari 7 juta orang di belahan dunia dengan tingkat kematian sebanyak 416 ribu lebih jiwa, berdasarkan data dari Johns Hopkins University.

“Virus corona dan upaya negara-negara untuk mengendalikannya telah menempatkan ekonomi global pada jalur resesi terburuk sejak Depresi Hebat (Great Depression),” kata Gita Gopinath, Kepala Ekonom IMF, bulan lalu (14/4), melansir CNBC International.

Sementara Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) memprediksi ekonomi global akan berkontraksi setidaknya 6% pada tahun ini akibat penutupan ekonomi guna menekan angka wabah Covid-19.

OECD juga memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi global akan “melambat dan tidak pasti”.

Bank Dunia bahkan memiliki dua skenario dalam memproyeksikan ekonomi global yang terjadi di 2020. Produk Domestik Bruto (PDB) diramal bisa minus 5,2% atau minus 8%. Semua karena pandemi virus corona atau covid-19.

Presiden Bank Dunia David Malpass mengatakan bahwa resesi ekonomi yang terjadi karena pandemi covid-19 merupakan resesi ekonomi yang terdalam sejak terjadi Perang Dunia II. Bahkan disebut sebagai resesi karena pandemi yang pertama terjadi sejak 1870.

Di sisi lain stimulus jumbo yang diberikan bank sentral maupun pemerintahan secara global juga turut menjadi pendukung harga emas untuk menguat lantaran adanya ancaman inflasi yang nyata ke depannya. Emas sebagai aset lindung nilai (hedge) jadi kebanjiran permintaan ketika ada ancaman inflasi yang tinggi dan penurunan nilai tukar.

“Orang menggunakan emas sebagai aset safe-haven dan juga banyak yang percaya bahwa inflasi akan naik di kuartal mendatang,” kata Phil Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago, melansir Reuters.

Fundamental untuk kenaikan harga emas lebih lanjut sangat mumpuni, lalu bagaimana dengan proyeksi harga emas secara teknikal?