PT Equityworld | Rupiah Keok Dihajar Dolar AS, Apa Dampaknya ke Industri dan Utang RI?

pt equityworld

PT Equityworld | Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tentu membawa dampak bagi perekonomian Indonesia. Pasalnya, mata uang Garuda diprediksi akan terus merosot ke level Rp 14 ribu per dolar AS hingga akhir tahun ini.
“Pelemahan nilai tukar rupiah diprediksi akan terus berlanjut dan tembus Rp 14.000 hingga akhir 2018,” kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira.
Menurut dia, kondisi pelemahan kurs rupiah memengaruhi tiga hal. Pertama, sambung Bhima, neraca perdagangan terancam kembali defisit karena biaya bahan baku impor meningkat.
“Beberapa industri seperti tekstil, farmasi, besi baja yang sebagian besar bahan bakunya bergantung impor akan terkena imbas paling besar,” ujarnya.
Dampak kedua, dia menambahkan, risiko gagal bayar swasta meningkat. Swasta harus membayar dengan dolar AS, sementara pendapatannya diperoleh menggunakan mata uang rupiah. Selisih kurs berisiko mengganggu keuangan perusahaan swasta. Apalagi tidak semua utang luar negeri swasta di hedging (lindung nilai).
Sedangkan ketiga, Bhima menjelaskan, untuk efek ke utang pemerintah pelemahan rupiah membuat kewajiban membayar cicilan pokok dan bunga utang luar negeri dalam bentuk valas akan membesar. Ruang fiskal akan semakin sempit, dalam jangka panjang defisit keseimbangan primer membengkak.
“Untuk antisipasi pelemahan nilai tukar rupiah, Bank Indonesia, selain menggunakan cadangan devisa, perkiraan saya juga akan menaikkan 7-days repo rate 25-50 bps di semester II-2018,” tandas Bhima.

Rupiah Nyaris 14.000 per Dolar AS , Ini Reaksi Bankir
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk atau Bank BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan masih menunggu tindakan Bank Indonesia (BI) sebagai regulator dalam menangani nilai tukar rupiah yang terus melemah. Rupiah saat ini hampir menyentuh posisi Rp 14.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
“Jadi kalau ditanya bagaimana rupiahnya, ya tergantung kebijakan BI. Jadi, ini menyangkut sekali dari kebijakan moneter BI. Apakah memang kurs di bawah Rp 14.000 akan terus dipertahankan dengan catatan misalnya dalam kurun waktu delapan bulan lagi tidak ada kenaikan rupiah,” kata dia di Hotel Kempinski, Jakarta, pada 23 April 2018.
Bahkan, menurut Jahja, pengaruh nilai tukar rupiah yang melemah juga akan berdampak pada sisi ekspor dan impor.
“Meskipun itu salah satu faktor, tapi yang kita mesti lihat adalah eskpor dan impor, negatif atau positif ketersediaan dolar di pasaran,” tuturnya.
Dia pun mengungkapkan, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) berencana akan menaikkan suku bunga acuan tahun ini sebanyak tiga sampai empat kali. Pada akhirnya, The Fed telah menaikkan suku bunganya menjadi 1,5 persen hingga 1,75 persen atau 25 basis poin (bsp).
“Kita enggak tahu nantinya seperti apa Fed arahnya. Artinya, paling tidak masih ada dua kali lagi. Jadi, kalau diantisipasi seperti itu, bunga USD pasti akan bergerak naik. Dolar AS akan memengaruhi juga currency lain di euro, pound sterling, yen, dan lainnya,” kata Jahja.
“Biasanya pakemnya, kalau dolar AS naik, yang lain akan mengikuti menyesuaikan. Interest-nya berapa ya, tergantung justifikasi setiap negara,” tandasnya.

6 Penyebab Rupiah Ambruk Nyaris 14.000 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terus terombang-ambing terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan kemarin, kurs mata uang Garuda mendekati Rp 14.000 per dolar AS.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengungkapkan, ada enam penyebab kurs rupiah terus tertekan melawan dolar AS.
Pertama, menurutnya, investor berspekulasi terkait prediksi kenaikan Fed Fund Rate pada rapat FMOC tanggal 1-2 Mei ini. Spekulasi ini membuat capital outflow (aliran dana keluar) di pasar modal mencapai Rp 7,78 triliun dalam satu bulan terakhir.
“Kenaikan yield atau imbal hasil treasury bond jelang rapat The Fed membuat sentimen investasi di negara berkembang khususnya Indonesia menurun,” kata Bhima.
Penyebab kedua, sambungnya, harga minyak mentah diprediksi naik lebih dari US$ 75 per barel akibat perang di Suriah dan ketidakpastian perang dagang AS dan China.
“Hal ini membuat inflasi jelang Ramadan semakin meningkat karena harga bbm nonsubsidi (Pertalite, Pertamax) menyesuaikan mekanisme pasar,” ujarnya.
Inflasi dari pangan, diakui Bhima, juga perlu diwaspadai karena harga bawang merah naik cukup tinggi dalam satu bulan terakhir.
Ketiga, permintaan dolar AS diperkirakan naik pada kuartal II-2018 karena emiten secara musiman membagikan dividen. Investor di pasar saham sebagian besar adalah investor asing sehingga mengonversi hasil dividen rupiah ke dalam mata uang dolar AS.
“Keempat, importir lebih banyak memegang dolar AS untuk kebutuhan impor bahan baku dan barang konsumsi jelang Lebaran. Perusahaan juga meningkatkan pembelian dolar untuk pelunasan utang luar negeri jangka pendek. Lebih baik beli sekarang sebelum dolar semakin mahal,” jelas Bhima.

Lebih jauh, kata Bhima, penyebab kelima kurs rupiah melemah karena defisit transaksi berjalan tahun ini semakin melebar. Perkiraannya hingga 2,1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Selain karena keluarnya modal asing juga karena defisit neraca perdagangan yang diperkirakan akan kembali terjadi jelang Lebaran karena impor barang konsumsinya naik,” terangnya.
Terakhir, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I- 2018 juga diperkirakan tidak akan mencapai 5,1 persen. Hal ini disebabkan konsumsi rumah tangga masih melemah terbukti dari Indeks Keyakinan Konsumen dan data penjualan ritel yang turun pada kuartal I.
“Sentimen ini membuat pasar cenderung pesimis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi 2018 yang ditarget tumbuh 5,4 persen,” Bhima memungkasi. (PT Equityworld)