PT Equityworld | Siap-siap! Harga Emas Bakal Balik Lagi ke US$ 2.000 Pekan Ini

PT Equityworld

PT Equityworld | Pada perdagangan pagi awal pekan ini, Senin (31/8/2020), harga logam mulia emas mengalami kenaikan. Meski ditutup dengan penguatan harga emas cenderung volatil pada pekan lalu.

Pukul WIB, harga logam kuning tersebut di pasar spot 0,41% dan dibanderol di US$ 1.973,8/troy ons. Harga emas dunia pekan lalu naik 1,29% dan ditutup di US$ 1.964,49/troy ons.
Minggu lalu harga emas bergerak dengan volatil setelah ketua bank sentral AS (Federal Reserves/the Fed) Jerome Powell memberikan pidatonya di simposium Jackson Hole Kamis lalu (21/8/2020).
Dalam pernyataannya Powell tak memberikan panduan spesifik terkait dengan kebijakan moneternya ke depan. Powell hanya memberikan sinyal bahwa the Fed akan menerapkan kebijakan moneter untuk mendongkrak inflasi rata-rata di 2% dan tingkat pengangguran yang rendah.
Memang Powell tak secara eksplisit memberikan gambaran kebijakan bank sentral AS ke depan. Namun stance dovish masih kental terasa. Itu tandanya suku bunga akan dipatok tetap rendah selama beberapa tahun mendatang.

Pernyataan Powell sempat membuat harga emas berayun liar. Namun kembali anjloknya indeks dolar yang mencerminkan posisi greenback di hadapan mata uang lain serta turunnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menjadi sentimen positif bagi emas.
Emas yang diyakini sebagai aset safe haven dan memiliki karakteristik lindung nilai (hedging) serta preservasi kekayaan dan punya store of value akhirnya ditutup menguat 1,29% minggu lalu merespons adanya ancaman inflasi yang tinggi di masa mendatang.
Pelemahan dolar disertai dengan penurunan harga emas membuat logam kuning tersebut menjadi semakin murah dan kembali dilirik oleh investor. Apalagi dengan opportunity cost emas yang rendah melihat suku bunga riil yang masih tetap rendah.
Pada dasarnya investor masih melihat fundamental emas untuk jangka panjang masih menarik. Baru-baru ini, survei yang diluncurkan oleh Kitco memperkirakan harga emas akan bullish di minggu ini.
Sebanyak 80% dari 15 profesional di Wall Street yang berpartisipasi dalam survei tersebut memprediksi harga emas bakal naik minggu ini. Sementara 20% sisanya netral.

Kitco News melaporkan seorang kepala perdagangan MKS Afshin Nabavi memiliki pandangan bullish terhadap emas di atas US$ 1.900 per ons-nya. Ia mengatakan bahwa jika dolar AS tak mampu melampaui level resistennya maka harga emas berpotensi kembali menuju US$ 2.000.
“Anda hanya perlu melihat apa yang terjadi di dunia” kata Nabavi. “Semuanya mendorong harga emas untuk naik lebih tinggi” tambahnya, mengutip Kitco News.
Charlie Nedoss, ahli strategi pasar senior di LaSalle Futures Group, mengatakan bahwa dia juga bullish pada emas dalam waktu dekat karena the Fed memilih untuk mendukung pasar tenaga kerja daripada inflasi.
“Untuk the Fed, suku bunga rendah bukanlah masalah tetapi tingkat pengangguran lah yang jadi masalahnya dan itu berarti mereka akan melakukan apa yang mereka bisa untuk mendukung pasar tenaga kerja dan itu akan bagus untuk emas,” katanya.
Hasil serupa juga ditunjukkan oleh Kitco yang melakukan interview kepada 2.375 responden Main Street. Dari total responden yang berpartisipasi tersebut sebanyak 57% nya memandang bullish harga emas.