PT Equityworld | Soal Yerusalem, MUI: Bisa Memantik Kemarahan Umat Islam di Dunia

PT Equityworld 86
PT Equityworld | Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak keras pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel oleh pemerintah Amerika Serikat. Sikap AS itu dinilai akan memantik kemarahan umat Islam di seluruh dunia.

“MUI menolak keras tindakan AS memberikan pengakuan terhadap Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan rencana pemindahan kantor kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yurusalem,” ujar Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi.

Zainut menilai Presiden AS Donald Trump tidak memiliki kepekaan terhadap perasaan umat Islam di seluruh dunia. Tidak hanya itu, tindakan ini juga akan memicu ketegangan di wilayah kawasan Teluk serta mengganggu ketenangan dan stabilitas Timur Tengah dan dunia. Serta akan memantik kemarahan besar umat Islam di seluruh dunia.

“Alih-alih dapat memberikan solusi perdamaian di wilayah kawasan, yang terjadi justru akan semakin menyuburkan fanatisme dan kekerasan dan mengancam proses perdamaian Israel-Palestina. Dan yang pasti akan memperpanjang penderitaan bangsa Palestina karena semakin tidak memiliki kepastian akan kemerdekaannya,” terangnya.

Menurutnya, tindakan Donald Trump sangat bertentangan dengan semangat Resolusi Dewan Keamanan PBB 2334, yang menuntut Israel menghentikan semua kegiatan permukiman di Yerusalem Timur termasuk pemindahan ibu kotanya dari Tel Aviv ke Yerusalem. Sehingga, AS seharusnya menolak tindakan Israel tersebut bukan sebaliknya justru memberikan pengakuan.

Karena itu, MUI mendukung langkah-langkah Pemerintah Indonesia untuk kemerdekaan negara Palestina dan terciptanya perdamaian melalui solusi dua negara.

“Solusi itu mencakup pembentukan negara merdeka Palestina di dalam garis perbatasan sebelum Perang 1967 yang terdiri dari Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur, dengan Israel yang hidup berdampingan secara damai,” ujarnya.

MUI meminta Pemerintah Indonesia untuk menggalang lobi dengan negara-negara Muslim di dunia untuk menekan AS agar mengevaluasi tindakannya.

“Mendesak kepada PBB agar memberikan sanksi berat kepada Israel dan AS karena kedua negara tersebut telah nyata-nyata melanggar resolusi DK PBB,” kata Zainut.

PT Equityworld | Pemindahan Kedubes ke Yerusalem Disebut Sulut Gerakan Anti AS

PT Equityworld | Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem akan menyulut kemarahan umat Islam. Sentimen anti AS akan merebak di seluruh dunia.

Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengungkapkan kebijakan Presiden Trump ini tak hanya berdampak di wilyah Timur Tengah. Ia mengakui konflik ini awalnya adalah soal tanah, namun Kota Yerusalem memiliki arti mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia.

“Peristiwa itu sebenarnya bukan soal agama, namun dimensi agama akan sangat kuat,” jelasnya.

Kebijakan pemindahan kedubes ini menunjukkan dukungan AS atas kepentingan Israel sebagai penguasa tunggal Kota Yerusalem. Padahal, kawasan timur Yerusalem merupakan kota suci tiga agama. Kota ini merupakan benteng terakhir keberadaan negara Palestina.

Mu’ti menyebut pertentangan paling keras bakal muncul di belahan lain negara Arab. Pasalnya, negara-negara di sana sedang mengalami masalah internal. Sikap keras bakal ditunjukkan oleh Iran selaku rival Arab Saudi yang selama ini bersikap lunak terhdap AS.

Mu’ti berharap pemerintah Indonesia bersikap tegas atas kebijakan AS ini. Selama ini Indonesia cukup konsisten mengakui negara Palestina dan memberikan bantuan.

Selain itu, gerakan masyarakat muslim juga disebut bakal merebak. Pemerintah AS bakal menghadapi gelombang demonstrasi di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

“Sikap anti AS akan menguat, bakal banyak demonstrasi di kedubes AS,” tegasnya.

Gerakan protes juga bakal muncul di AS sendiri. Menurutnya, banyak warga AS, baik muslim maupun non muslin, yang mendukung solusi dua negara untuk wilayah itu, yakni Israel dan Palestina. (PT Equityworld)

Save